Pabrik Tahu Sukinem: Omzet Meroket 200%, Ini Dampak Nyata Program MBG

3 min read
Pabrik Tahu Sukinem: Omzet Meroket 200% Berkat Program MBG

Pengusaha tahu Sukinem (67) di Karanganyar mengalami peningkatan omzet signifikan. Usaha “Ngudi Rejeki” miliknya kini menghasilkan Rp8 juta per hari, naik dua kali lipat dari Rp4 juta. Peningkatan ini terjadi setelah Sukinem memasok tahu ke program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan produksi mencapai 4 kuintal kedelai per hari.

Pabrik Tahu Sukinem: Omzet Meroket 200% Berkat Program MBG

Omzet pabrik tahu “Ngudi Rejeki” milik Sukinem (67) di Desa Sumberejo, Karanganyar, melonjak dua kali lipat menjadi Rp8 juta per hari, setelah pengusaha tersebut menjadi pemasok utama program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peningkatan drastis ini mengubah nasib usaha kecil yang sebelumnya hanya meraup Rp4 juta per hari.

Lonjakan produksi dari 2,5 kuintal menjadi hampir 4 kuintal kedelai per hari ini menunjukkan dampak langsung intervensi program pemerintah terhadap ekonomi mikro, meski menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan dan jangkauan manfaatnya yang dipolitisasi.

Dampak Program MBG

Sukinem kini menyuplai antara 7.000 hingga 9.000 biji tahu per hari, mendistribusikannya ke tiga dapur di Sragen dan empat dapur di Karanganyar. Mayoritas pesanan didominasi tahu kempong dan tahu sayur, jenis yang mudah diolah untuk menu program MBG.

Sebelum terhubung dengan program MBG, usaha “Ngudi Rejeki” hanya mampu menghasilkan omzet Rp4 juta per hari. Angka ini, meski terkesan besar, menjadi batas tipis antara cukup dan kekurangan bagi produksi tahu skala kecil.

Usaha yang dirintis Sukinem sejak 2003, setelah sebelumnya membantu saudaranya mengangkut tahu sejak 1997, kini menghadapi lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Peralatan sederhana dan tenaga terbatas kini dipaksa beradaptasi dengan skala produksi yang jauh lebih besar.

Peningkatan produksi kedelai dari 2,5 kuintal menjadi hampir 4 kuintal setiap hari menggambarkan tekanan dan peluang yang diciptakan oleh program ini. Pabrik tahu “Ngudi Rejeki” menjadi studi kasus nyata bagaimana program berskala nasional dapat langsung memengaruhi rantai pasok lokal.

Namun, ketergantungan masif pada satu program pemerintah ini memunculkan pertanyaan kritis. Apakah model ini berkelanjutan bagi seluruh pelaku UMKM, atau hanya menguntungkan sebagian kecil yang berhasil masuk dalam jaringan pasok MBG yang terstruktur secara politis?

Pengakuan dan Harapan

Sukinem tidak menyembunyikan rasa syukurnya. “Lumayan lah, untuk orang produksi sangat kecil ini, sangat tertolong,” ujarnya, menjelaskan dampak signifikan program tersebut terhadap kelangsungan usahanya.

Dalam momen yang penuh haru, Sukinem bahkan tak kuasa menahan air mata. “Terimakasih Pak Prabowo, saya sudah dibantu, usaha saya bisa lancar,” ucapnya terbata, mengusap air mata yang jatuh.

Kutipan ini menggarisbawahi bagaimana program MBG, yang digagas oleh sosok politik tertentu, memberikan dampak personal yang mendalam, sekaligus menyoroti potensi politisasi bantuan ekonomi dan pencitraan.

Tantangan di Balik Keberhasilan

Kisahnya, yang dipublikasikan dengan foto dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, menjadi narasi kuat tentang keberhasilan program MBG dalam menggerakkan ekonomi akar rumput. Narasi ini perlu dibaca secara kritis.

Di balik narasi tersebut, muncul tantangan besar: bagaimana memastikan manfaat program ini tidak hanya bersifat sesaat atau terbatas pada segelintir pelaku usaha, serta bagaimana menghindari ketergantungan yang berlebihan pada inisiatif politik semata yang cenderung sporadis.

More like this