Pangi Bongkar Penumpang Gelap di Balik Tudingan Penistaan Agama JK
Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago meyakini mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tidak menista agama. Pangi menduga kuat ada motif politik di balik laporan polisi terhadap JK. Ia menilai JK sebagai tokoh rekonsiliasi, sehingga laporan penistaan agama tersebut dianggap tidak masuk akal.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago secara tegas menolak kemungkinan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menistakan agama. Pangi justru menuding ada “penumpang gelap” yang mendalangi laporan polisi terhadap JK, mengindikasikan intrik politik kotor di balik tuduhan tersebut.
Pernyataan keras ini disampaikan Pangi di Jakarta pada Selasa (28/4/2026), menyusul laporan yang menyeret JK ke ranah hukum. Ia menekankan bahwa tuduhan penistaan agama terhadap tokoh sekelas JK, yang dikenal sebagai mediator perdamaian dunia, adalah hal yang tidak masuk akal dan sarat muatan politis.
Motif Tersembunyi
Pangi mendasarkan keyakinannya pada rekam jejak JK dalam meredam berbagai konflik di masa lalu, sebuah peran yang kontradiktif dengan tuduhan provokasi agama. Menurutnya, mustahil seorang tokoh rekonsiliasi tiba-tiba bertindak menista agama. Ini menguatkan dugaan kuat adanya agenda tersembunyi.
Dia menegaskan, dalam politik, tidak ada kejadian yang alamiah. Selalu ada “arsitek” yang merancang dan mendesain peristiwa untuk kepentingan tertentu, termasuk laporan polisi terhadap JK. Ini bukan insiden kebetulan, melainkan sebuah skenario terencana.
Peringatan Kasus Ahok
Pangi menyinggung kasus hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjelang Pilkada DKI Jakarta sebagai preseden buruk. Ia melihat pola yang sama sedang dimainkan kembali, di mana isu agama kembali dipolitisasi untuk menyerang figur publik.
“Saya ingin mengatakan secara common sense, bagaimana mungkin JK memprovokasi menista agama sementara dialah tokoh rekonsiliasi perdamaian dunia. Itu tidak mungkin menurut saya. Tidak masuk akal, tidak common sense, dan tidak klik dengan kepentingan. Di sini ada penumpang gelap,” ujar Pangi dengan nada tajam.
Ia melanjutkan, “Itu sudah menjadi pembelajaran yang maha penting yang mestinya tidak perlu terjadi lagi. Sekarang dipancing-pancing lagi soal persoalan agama. Jadi saya katakan iya, ada penumpang gelapnya. Saya merasakan itu kepentingan politiknya jalan.”
Ancaman Politisasi Agama
Analisis Pangi menyoroti bahaya laten penggunaan isu agama sebagai alat politik. Ia melihat insiden JK ini sebagai upaya provokasi yang sengaja dirancang untuk memecah belah dan menciptakan kegaduhan, dengan tujuan akhir mencapai kepentingan politik pihak tertentu.
Laporan terhadap Jusuf Kalla atas dugaan penistaan agama kini menjadi sorotan tajam, memicu kekhawatiran akan terulangnya polarisasi berbasis agama demi keuntungan politik, sebuah skenario yang Pangi yakini sedang berlangsung.