Pekalongan Dorong Peningkatan Kemampuan Analitis Pelajar Tingkat Sd
KOTA PEKALONGAN – Peningkatan kemampuan analitis para pelajar tingkat sekolah dasar (SD), menjadi salah satu upaya yang akan digenjot Pemerintah Kota Pekalongan. Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Karyono, menggatakan, pihaknya tengah menyiapkan berbagai strategi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dasar, dalam rangka menindaklanjuti hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di wilayahnya. Salah satunya, melalui penguatan kompetensi guru, agar mampu menerapkan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan mendorong murid berpikir kritis. “Anak-anak perlu lebih dibiasakan menghadapi soal yang membutuhkan pemahaman mendalam, bukan sekadar menghafal. Mereka harus mampu membaca informasi, menganalisis, kemudian menentukan jawaban yang tepat. Kemampuan berpikir kritis seperti ini yang akan terus kami dorong untuk ditingkatkan,” tegasnya. Hal itu disampaikannya sebagai respon terhadap hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026, untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di Kota Pekalongan. Lebih lanjut, rata-rata nilai Matematika TKA SD Kota Pekalongan sebesar 45,72, sedangkan Bahasa Indonesia mencapai 63,19. “Hasil ini tentu belum sepenuhnya memuaskan. Namun justru data ini menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kami, untuk merancang langkah-langkah perbaikan ke depan,” katanya. Karyono menjelaskan, tentang rentang nilai TKA yang menggunakan skala 0 hingga 100. Nilai terendah mata pelajaran tercatat sebesar 6,67 dan Bahasa Indonesia sebesar 10. Capaian tertinggi menunjukkan hasil yang menggembirakan, yakni nilai Matematika mencapai 96,67, dan terdapat dua murid yang berhasil meraih nilai sempurna 100 pada mata uji Bahasa Indonesia. Menurutnya, data sebaran nilai menunjukkan, sebagian besar murid masih berada pada kategori menengah. Pada mata uji Matematika, sebanyak 1.627 murid memperoleh nilai pada rentang 31 hingga 50, sedangkan untuk Bahasa Indonesia, sebanyak 656 murid berada pada rentang nilai yang sama. “Data ini memberikan gambaran, bahwa masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal TKA, terutama yang menuntut kemampuan analisis dan pemecahan masalah,” jelasnya. Ia menilai tantangan utama bukan semata-mata pada penguasaan materi, melainkan pada kemampuan murid memahami dan menganalisis soal yang memiliki stimulus cukup panjang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan keterampilan berpikir kritis sejak dini, di lingkungan sekolah. Karyono menyebut, TKA bagi pelajar tingkat SD diikuti oleh 3.117 dari 3.125 murid kelas VI se-Kota Pekalongan. Capaian tersebut menjadi indikator positif kesiapan sekolah, guru, dan peserta didik dalam mengikuti asesmen tingkat nasional. “Kalau dilihat dari sisi teknis dan kuantitas pelaksanaan, tidak ada kendala berarti. Dari 103 SD yang ada, semuanya mengikuti TKA,” ujar Karyono. Selain menjadikan hasil TKA sebagai bahan evaluasi, Dinas Pendidikan juga memanfaatkan berbagai data pendidikan lainnya, termasuk Rapor Pendidikan, sebagai dasar penyusunan kebijakan peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Ia menambahkan, hasil TKA memiliki manfaat penting bagi peserta didik, karena dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya melalui jalur prestasi. Lanjutnya, melalui kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah daerah, serta bekerja sama dengan Tanoto Foundation, kemampuan literasi, numerasi, serta berpikir kritis peserta didik, diharapkan semakin berkembang, sehingga mampu menghadapi tantangan pendidikan di masa depan. “Kami melihat hasil TKA ini bukan sekadar angka, tetapi sebagai peta untuk menentukan langkah perbaikan. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak bersama-sama meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga anak-anak Kota Pekalongan memiliki kompetensi yang semakin baik di masa mendatang,” pungkas Karyono. Praktik Baik Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan juga menyiapkan berbagai langkah strategis, untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi peserta didik jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri, menuturkan, pihaknya akan memperkuat peran komunitas guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk jenjang SD, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk jenjang SMP. Melalui forum-forum tersebut, para guru diharapkan dapat saling berbagi praktik baik, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif, dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Salain itu, peran pengawas sekolah juga akan dioptimalkan, karena mereka adalah ujung tombak penghubung antara kebijakan dinas dengan implementasi di satuan pendidikan. Pengawas akan lebih aktif melakukan pemantauan, pembinaan, serta pendampingan terhadap sekolah-sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. “Kami akan memaksimalkan fungsi pengawas sekolah untuk mengawal program literasi dan numerasi ini. Jadi masyarakat tidak perlu gusar dengan hasil yang ada saat ini, karena kami terus melakukan berbagai upaya perbaikan secara sistematis dan berkelanjutan,” tegasnya. Mabruri menambahkan, tantangan utama dalam TKA adalah karakter soal yang menggunakan pendekatan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Peserta didik tidak lagi hanya dituntut menghafal atau memahami materi, tetapi juga harus mampu menganalisis, mensintesis, serta mengevaluasi berbagai persoalan. Menurutnya, kemampuan tersebut tidak dapat dibangun secara instan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penguatan literasi dan numerasi harus dilakukan sejak dini, dan menjadi bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan sejak sekolah dasar. “Pemerintah saat ini juga mendorong pendekatan pembelajaran mendalam dan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics). Melalui pendekatan itu, anak-anak dibiasakan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan kreativitas, sehingga siap menghadapi berbagai bentuk asesmen di masa depan,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dindik Kota Pekalongan, Mualim, mengungkapkan, secara umum hasil TKA SMP Tahun 2026 di Kota Pekalongan, menunjukkan capaian yang cukup baik untuk pelaksanaan perdana. Berdasarkan data rekapitulasi yang dihimpun Dindik Kota Pekalongan, nilai rata-rata TKA mata pelajaran Matematika mencapai 43,23. Nilai tertinggi Matematika tercatat 96,67, sementara di mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat tujuh siswa yang berhasil meraih nilai sempurna 100. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, distribusi nilai menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Sebanyak 961 siswa memperoleh nilai pada rentang 70 hingga kurang dari 80, kemudian 805 siswa berada pada rentang 80 hingga kurang dari 90, serta 273 siswa memperoleh nilai 90 hingga kurang dari 100. Bahkan tujuh siswa berhasil mencapai nilai sempurna. Nilai rata-rata TKA Bahasa Indonesia mencapai 67,97. Mualim juga menyampaikan antusiasme peserta didik mengikuti TKA sangat tinggi. Dari total 3.862 siswa kelas IX SMP negeri dan swasta di Kota Pekalongan, sebanyak 3.853 siswa mendaftar mengikuti TKA. Hanya dua siswa yang tidak hadir saat pelaksanaan, sehingga tingkat partisipasi mencapai 99,72 persen. “Kalau dilihat dari kuantitas peserta, ini merupakan capaian yang sangat baik dan menunjukkan tingginya kesadaran siswa maupun orang tua, terhadap pentingnya TKA,” ujarnya. Menurut Mualim, Kementerian Pendidikan menegaskan, TKA bersifat tidak wajib, namun hasilnya akan terus dikembangkan, agar menjadi salah satu barometer yang kredibel dalam mengukur keberhasilan pembelajaran. Ke depan, hasil TKA juga berpotensi menjadi salah satu pertimbangan dalam jalur prestasi, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia pun mengajak seluruh orang tua untuk terus memberikan perhatian terhadap pendidikan putra-putrinya, baik dalam aspek akademik maupun pembentukan karakter. “Peran keluarga sangat penting. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepatuhan kepada orang tua, serta kesungguhan dalam belajar menjadi fondasi utama keberhasilan anak. Jika ketiga hal itu mendapatkan perhatian yang baik, insyaallah hasil belajar anak-anak akan semakin meningkat pada masa mendatang,” tuturnya. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, guru, pengawas, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, ia optimistis kualitas literasi dan numerasi peserta didik akan terus meningkat. Penulis: Dian, Tim Liputan Kominfo Kota Pekalongan Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Jateng
KOTA PEKALONGAN – Peningkatan kemampuan analitis para pelajar tingkat sekolah dasar (SD), menjadi salah satu upaya yang akan digenjot Pemerintah Kota Pekalongan.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Karyono, menggatakan, pihaknya tengah menyiapkan berbagai strategi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dasar, dalam rangka menindaklanjuti hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di wilayahnya. Salah satunya, melalui penguatan kompetensi guru, agar mampu menerapkan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan mendorong murid berpikir kritis.
“Anak-anak perlu lebih dibiasakan menghadapi soal yang membutuhkan pemahaman mendalam, bukan sekadar menghafal. Mereka harus mampu membaca informasi, menganalisis, kemudian menentukan jawaban yang tepat. Kemampuan berpikir kritis seperti ini yang akan terus kami dorong untuk ditingkatkan,” tegasnya.
Hal itu disampaikannya sebagai respon terhadap hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026, untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di Kota Pekalongan.
Lebih lanjut, rata-rata nilai Matematika TKA SD Kota Pekalongan sebesar 45,72, sedangkan Bahasa Indonesia mencapai 63,19.
“Hasil ini tentu belum sepenuhnya memuaskan. Namun justru data ini menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kami, untuk merancang langkah-langkah perbaikan ke depan,” katanya.
Karyono menjelaskan, tentang rentang nilai TKA yang menggunakan skala 0 hingga 100. Nilai terendah mata pelajaran tercatat sebesar 6,67 dan Bahasa Indonesia sebesar 10. Capaian tertinggi menunjukkan hasil yang menggembirakan, yakni nilai Matematika mencapai 96,67, dan terdapat dua murid yang berhasil meraih nilai sempurna 100 pada mata uji Bahasa Indonesia.
Menurutnya, data sebaran nilai menunjukkan, sebagian besar murid masih berada pada kategori menengah. Pada mata uji Matematika, sebanyak 1.627 murid memperoleh nilai pada rentang 31 hingga 50, sedangkan untuk Bahasa Indonesia, sebanyak 656 murid berada pada rentang nilai yang sama.
“Data ini memberikan gambaran, bahwa masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal TKA, terutama yang menuntut kemampuan analisis dan pemecahan masalah,” jelasnya.
Ia menilai tantangan utama bukan semata-mata pada penguasaan materi, melainkan pada kemampuan murid memahami dan menganalisis soal yang memiliki stimulus cukup panjang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan keterampilan berpikir kritis sejak dini, di lingkungan sekolah.
Karyono menyebut, TKA bagi pelajar tingkat SD diikuti oleh 3.117 dari 3.125 murid kelas VI se-Kota Pekalongan. Capaian tersebut menjadi indikator positif kesiapan sekolah, guru, dan peserta didik dalam mengikuti asesmen tingkat nasional.
“Kalau dilihat dari sisi teknis dan kuantitas pelaksanaan, tidak ada kendala berarti. Dari 103 SD yang ada, semuanya mengikuti TKA,” ujar Karyono.
Selain menjadikan hasil TKA sebagai bahan evaluasi, Dinas Pendidikan juga memanfaatkan berbagai data pendidikan lainnya, termasuk Rapor Pendidikan, sebagai dasar penyusunan kebijakan peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.
Ia menambahkan, hasil TKA memiliki manfaat penting bagi peserta didik, karena dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya melalui jalur prestasi.
Lanjutnya, melalui kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah daerah, serta bekerja sama dengan Tanoto Foundation, kemampuan literasi, numerasi, serta berpikir kritis peserta didik, diharapkan semakin berkembang, sehingga mampu menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
“Kami melihat hasil TKA ini bukan sekadar angka, tetapi sebagai peta untuk menentukan langkah perbaikan. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak bersama-sama meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga anak-anak Kota Pekalongan memiliki kompetensi yang semakin baik di masa mendatang,” pungkas Karyono.
Praktik Baik
Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan juga menyiapkan berbagai langkah strategis, untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi peserta didik jenjang sekolah menengah pertama (SMP).
Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri, menuturkan, pihaknya akan memperkuat peran komunitas guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk jenjang SD, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk jenjang SMP. Melalui forum-forum tersebut, para guru diharapkan dapat saling berbagi praktik baik, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif, dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Salain itu, peran pengawas sekolah juga akan dioptimalkan, karena mereka adalah ujung tombak penghubung antara kebijakan dinas dengan implementasi di satuan pendidikan. Pengawas akan lebih aktif melakukan pemantauan, pembinaan, serta pendampingan terhadap sekolah-sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Kami akan memaksimalkan fungsi pengawas sekolah untuk mengawal program literasi dan numerasi ini. Jadi masyarakat tidak perlu gusar dengan hasil yang ada saat ini, karena kami terus melakukan berbagai upaya perbaikan secara sistematis dan berkelanjutan,” tegasnya.
Mabruri menambahkan, tantangan utama dalam TKA adalah karakter soal yang menggunakan pendekatan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Peserta didik tidak lagi hanya dituntut menghafal atau memahami materi, tetapi juga harus mampu menganalisis, mensintesis, serta mengevaluasi berbagai persoalan.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak dapat dibangun secara instan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penguatan literasi dan numerasi harus dilakukan sejak dini, dan menjadi bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan sejak sekolah dasar.
“Pemerintah saat ini juga mendorong pendekatan pembelajaran mendalam dan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics). Melalui pendekatan itu, anak-anak dibiasakan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan kreativitas, sehingga siap menghadapi berbagai bentuk asesmen di masa depan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dindik Kota Pekalongan, Mualim, mengungkapkan, secara umum hasil TKA SMP Tahun 2026 di Kota Pekalongan, menunjukkan capaian yang cukup baik untuk pelaksanaan perdana.
Berdasarkan data rekapitulasi yang dihimpun Dindik Kota Pekalongan, nilai rata-rata TKA mata pelajaran Matematika mencapai 43,23. Nilai tertinggi Matematika tercatat 96,67, sementara di mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat tujuh siswa yang berhasil meraih nilai sempurna 100.
Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, distribusi nilai menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Sebanyak 961 siswa memperoleh nilai pada rentang 70 hingga kurang dari 80, kemudian 805 siswa berada pada rentang 80 hingga kurang dari 90, serta 273 siswa memperoleh nilai 90 hingga kurang dari 100. Bahkan tujuh siswa berhasil mencapai nilai sempurna. Nilai rata-rata TKA Bahasa Indonesia mencapai 67,97.
Mualim juga menyampaikan antusiasme peserta didik mengikuti TKA sangat tinggi. Dari total 3.862 siswa kelas IX SMP negeri dan swasta di Kota Pekalongan, sebanyak 3.853 siswa mendaftar mengikuti TKA. Hanya dua siswa yang tidak hadir saat pelaksanaan, sehingga tingkat partisipasi mencapai 99,72 persen.
“Kalau dilihat dari kuantitas peserta, ini merupakan capaian yang sangat baik dan menunjukkan tingginya kesadaran siswa maupun orang tua, terhadap pentingnya TKA,” ujarnya.
Menurut Mualim, Kementerian Pendidikan menegaskan, TKA bersifat tidak wajib, namun hasilnya akan terus dikembangkan, agar menjadi salah satu barometer yang kredibel dalam mengukur keberhasilan pembelajaran. Ke depan, hasil TKA juga berpotensi menjadi salah satu pertimbangan dalam jalur prestasi, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia pun mengajak seluruh orang tua untuk terus memberikan perhatian terhadap pendidikan putra-putrinya, baik dalam aspek akademik maupun pembentukan karakter.
“Peran keluarga sangat penting. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepatuhan kepada orang tua, serta kesungguhan dalam belajar menjadi fondasi utama keberhasilan anak. Jika ketiga hal itu mendapatkan perhatian yang baik, insyaallah hasil belajar anak-anak akan semakin meningkat pada masa mendatang,” tuturnya.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, guru, pengawas, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, ia optimistis kualitas literasi dan numerasi peserta didik akan terus meningkat.
Penulis: Dian, Tim Liputan Kominfo Kota Pekalongan
Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Jateng


