Pekalongan Hadapi Rob & Banjir: Kantong Pasir Jadi Garis Pertahanan Vital

2 min read
Kantong Pasir: Pertahanan Utama Pekalongan Hadapi Rob & Banjir

Kota Pekalongan memasang tanggul darurat sandbag di titik rawan Sungai Bremi dan Meduri untuk penanganan banjir serta rob. DPUPR Kota Pekalongan juga mengoptimalkan 14 stasiun pompa air 24 jam. Upaya ini bertujuan mengendalikan luapan air dan mempercepat surutnya genangan di permukiman warga terdampak.

Kota Pekalongan, Selasa (3/2/2026), berjibaku mengatasi banjir dan rob yang melumpuhkan permukiman, memasang tanggul darurat berupa sandbag dan mengoptimalkan 14 stasiun pompa air 24 jam. Namun, upaya ini terancam sia-sia karena pompa justru “lumpuh” dan tidak efektif saat limpasan sungai atau tanggul jebol – kondisi krusial yang paling membutuhkan penanganan.

Pekalongan: Solusi Darurat Banjir Terkendala, Pompa Lumpuh Saat Sungai Meluap

DPUPR Kota Pekalongan secara reaktif menindaklanjuti laporan warga, memasang ribuan kantong pasir di titik rawan limpasan Sungai Bremi dan Meduri. Kawasan seperti Bremi Pabean, Bremi Pasirsari, Bremi Tirto, Kampung Baru, Gama Permai 3, Gama Asri, Jalan Slamet, hingga Jalan KH. Ahmad Dahlan kini dipadati tanggul sementara, mencoba menahan laju air yang masuk ke rumah warga.

Sebagai upaya darurat, 14 stasiun pompa di sepanjang Sungai Bremi dan Meduri dioptimalkan dengan 31 tenaga penjaga yang bekerja penuh 24 jam melalui penambahan satu sif ekstra. Langkah ini diklaim untuk mempercepat penyedotan air dari wilayah terdampak, sebuah pengakuan implisit atas ketidaksiapan sebelumnya.

Ironisnya, sistem pompa ini justru tidak berdaya ketika kondisi paling genting. Kepala DPUPR, Khaerudin, mengakui pompa “lumpuh” dan tidak dapat difungsikan maksimal saat air sungai meluap atau tanggul jebol. Artinya, alat vital penanganan banjir ini justru mogok di saat darurat, hanya efektif saat air mulai surut – setelah kerusakan terjadi.

Khaerudin mengungkapkan, “Banyak laporan dan permintaan dari masyarakat yang kami tindaklanjuti. Sungai melimpas karena debit air tinggi, sehingga air masuk ke rumah warga. Oleh karena itu, kami lakukan penguatan tanggul darurat sebagai langkah cepat pengendalian.” Pernyataan ini menegaskan respons pemerintah yang didorong oleh desakan publik, bukan inisiatif antisipatif.

Ia menambahkan, secara blak-blakan mengakui kelemahan sistem, “Kalau air sungai sudah limpas atau tanggul jebol, pompa akan lumpuh karena memang tidak efektif. Oleh sebab itu, pengoperasian pompa kami sesuaikan dengan kondisi sungai. Ketika air mulai surut, barulah stasiun pompa bisa dioperasikan secara optimal.” Pengakuan ini menyoroti cacat fundamental dalam strategi penanganan banjir kota.

Banjir dan rob di Pekalongan merupakan masalah kronis yang terus berulang setiap tahun, dipicu curah hujan tinggi dan kenaikan muka air laut. Solusi darurat yang reaktif dan rentan kegagalan ini menunjukkan belum adanya terobosan nyata untuk menuntaskan penderitaan warga yang terus-menerus terendam.

Pekalongan Hadapi Rob & Banjir: Kantong Pasir Jadi Garis Pertahanan Vital
Pekalongan Hadapi Rob & Banjir: Kantong Pasir Jadi Garis Pertahanan Vital
Pekalongan Hadapi Rob & Banjir: Kantong Pasir Jadi Garis Pertahanan Vital
More like this