Pemkot Semarang Anugerahi KH Sholeh Darat: Menguak Relevansi Sejarah untuk Identitas Kota Modern

2 min read
Pemkot Semarang Anugerahi KH Sholeh Darat: Menggali Relevansi Sejarah untuk Identitas Kota Modern

Pemerintah Kota Semarang serahkan penghargaan Tokoh Moderasi kepada K.H. Sholeh Darat, Kamis (12/2). Ini bagian pengusulan pahlawan nasional, sekaligus apresiasi warisan intelektual beliau. Jalan Kyai Saleh resmi berganti nama menjadi Jalan K.H. Sholeh Darat. Pemkot Semarang berkomitmen merawat sejarah dan mendorong generasi muda meneladani tokoh bangsa.

Pemkot Semarang Anugerahi KH Sholeh Darat: Menggali Relevansi Sejarah untuk Identitas Kota Modern

Semarang, Kamis (12/2) – Pemerintah Kota Semarang secara simbolis menganugerahkan K.H. Sholeh Darat sebagai “Tokoh Moderasi” sekaligus mengganti nama Jalan Kyai Saleh menjadi Jalan K.H. Sholeh Darat. Seremoni ini, diklaim sebagai bagian dari proses pengusulan pahlawan nasional, memicu pertanyaan tentang kedalaman komitmen Pemkot dalam melestarikan warisan intelektual, bukan sekadar seremoni belaka.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyerahkan Surat Keputusan perubahan nama jalan tersebut. Langkah ini disusul penyerahan piagam penghargaan kepada ahli waris K.H. Sholeh Darat, lengkap dengan penandatanganan pernyataan ahli waris dan pengesahan foto untuk validitas data historis.

Janji Pelestarian Intelektual

Di tengah gegap gempita seremoni, Pemkot Semarang menerima penyerahan Tafsir Faidhurrahman untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Klaimnya, ini akan memperluas akses masyarakat terhadap karya monumental K.H. Sholeh Darat. Namun, janji penerjemahan ini patut diawasi ketat; apakah akan berujung pada upaya serius atau sekadar simbolis tanpa tindak lanjut konkret?

Agustina Wilujeng menegaskan, “Jalan bukan sekadar ruang lalu lintas, tetapi ruang ingatan. Setiap orang yang melintas di jalan tersebut diingatkan bahwa kota ini pernah melahirkan ulama besar yang mengajarkan ilmu dengan kelembutan, dakwah dengan kebijaksanaan, dan Islam dengan semangat moderasi.” Pernyataan ini menyeret narasi moderasi ke dalam konteks sejarah, sebuah label yang seringkali relevan dengan wacana politik kontemporer.

“Semarang memiliki banyak figur inspiratif yang kontribusinya melampaui zamannya. Mengangkat kembali sosok seperti KH Sholeh Darat berarti kita sedang menanamkan identitas dan kebanggaan sejarah kepada masyarakat,” tambah Agustina. Klaim ini menimbulkan pertanyaan: jika Semarang kaya akan figur inspiratif, mengapa baru sekarang Pemkot secara gencar “mengangkat kembali” tokoh yang, menurut mereka, “belum banyak dikenal generasi muda”? Ini mengindikasikan kegagalan sistematis dalam pelestarian sejarah sebelumnya.

Latar Belakang dan Pertanyaan Mendasar

K.H. Sholeh Darat dikenal sebagai ulama besar dan guru bagi tokoh-tokoh penting dalam perkembangan keilmuan Islam di Nusantara. Pengangkatan beliau sebagai “Tokoh Moderasi” dan perubahan nama jalan adalah upaya Pemkot untuk menanamkan identitas dan kebanggaan sejarah. Namun, tanpa program edukasi yang masif dan terstruktur, serta komitmen riil dalam penerjemahan dan penyebarluasan karya-karya beliau, semua ini berisiko menjadi sekadar pengukuhan nama, bukan penghidupan warisan. Pemkot Semarang, dengan semua seremoni ini, masih berutang bukti nyata atas komitmennya merawat memori kolektif yang lebih dari sekadar perubahan plang jalan.

More like this