Pendidikan Berbasis Kompetensi: Kunci Masa Depan Versi Kongres Iterati 2026

2 min read
Pendidikan Berbasis Kompetensi: Kunci Masa Depan Versi Iterati 2026

Iterati dan Citiasia menyoroti masalah SDM Indonesia: ketidaksesuaian lulusan dengan dunia kerja. Hanya 64% pekerja muda sesuai kualifikasi, 22,36% overeducation. Solusi mendesak adalah reposisi sistem pendidikan dari gelar ke ekosistem berbasis kompetensi. Sertifikasi profesi serta pendidikan vokasi harus terhubung industri, didukung peta talenta jelas.

Pendidikan Berbasis Kompetensi: Kunci Masa Depan Versi Iterati 2026

Indonesia dihantam krisis sumber daya manusia. Jutaan lulusan baru tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, menciptakan “bom waktu” produktivitas nasional. Ketua Umum Ikatan Teknisi dan Teknolog Rekayasa Indonesia (Iterati), Andi Taufan Marimba, Senin (27/4/2026), menegaskan masalah ini telah mencapai titik kritis yang mengancam ekonomi, menuntut intervensi nyata. Iterati, bersama Citiasia, merespons kondisi darurat ini dengan menandatangani nota kesepahaman untuk pengembangan kapasitas dan talenta SDM Indonesia.

Mismatch Pendidikan: Pemborosan Nasional

Data mencengangkan: hanya 64% pekerja muda bekerja sesuai kualifikasi pendidikan mereka. Ironisnya, 22,36% justru mengalami overeducation, memiliki kualifikasi terlalu tinggi untuk pekerjaan yang dijalani. Ini bukan sekadar angka; ini adalah pemborosan masif sumber daya manusia dan potensi bangsa.
Ketidaksesuaian ini bukan masalah pilihan karier pribadi. Ini adalah cermin kegagalan sistemik yang menggerus efisiensi, inovasi, dan daya saing nasional.
Persoalan ini, yang menjadi sorotan utama dalam Kongres I Iterati 2026, menuntut solusi radikal. Penambahan jumlah lulusan atau perluasan akses pendidikan saja tidak cukup.
Solusi mendesak adalah reposisi total sistem pendidikan—dari berbasis gelar menuju ekosistem berbasis kompetensi.
Sertifikasi profesi harus menjadi “mata uang utama,” bukan sekadar pelengkap. Pendidikan vokasi wajib terhubung langsung dengan kebutuhan industri, bukan berjalan di jalur terpisah. Negara juga dituntut memiliki peta talenta yang jelas: siapa memiliki kompetensi apa dan dibutuhkan di mana.

Peringatan Keras dari Iterati

Andi Taufan Marimba tidak berbasa-basi, “Solusi tidak cukup hanya dengan menambah jumlah lulusan atau memperluas akses pendidikan. Namun, yang dibutuhkan adalah reposisi total dari sistem pendidikan berbasis gelar menuju ekosistem berbasis kompetensi.”
Ia melanjutkan, dengan nada tajam, “Sertifikasi profesi harus menjadi mata uang utama, bukan sekadar pelengkap. Pendidikan vokasi harus terhubung langsung dengan kebutuhan industri, bukan berjalan di jalur yang tidak beririsan.”
Marimba memperingatkan, “Artinya, hampir separuh talenta muda Indonesia tidak benar-benar berada di jalur yang tepat. Ini bukan sekadar masalah pilihan karier. Ini adalah kegagalan sistemik. Mismatch pendidikan telah menjelma menjadi bom waktu yang menggerus produktivitas nasional.”

Latar Belakang Krisis

Krisis SDM ini telah lama membayangi Indonesia, di mana pertumbuhan jumlah lulusan tidak sejalan dengan relevansi mereka di pasar kerja.
Nota kesepahaman antara Iterati dan Citiasia merupakan salah satu upaya konkret dalam menghadapi tantangan struktural yang terus menghambat pembangunan ekonomi dan kesejahteraan nasional.

More like this