Prabowo Tegaskan Solusi Dua Negara, Kunci Perdamaian Gaza di Forum Internasional
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia pada perdamaian jangka panjang rakyat Palestina. Dalam pertemuan Board of Peace (BoP), ia menyebut kemajuan konkret bantuan kemanusiaan ke Gaza. Indonesia konsisten mendukung solusi dua negara untuk kemerdekaan Palestina, meski tantangan penyelesaian menyeluruh masih ada.

Presiden RI Prabowo Subianto mengklaim situasi kemanusiaan di Gaza “menunjukkan perkembangan positif” dan aliran bantuan “telah terpenuhi, bahkan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir”, seusai pertemuan Board of Peace (BoP) di Washington DC, Kamis (19/2). Klaim ini menohok, berlawanan telak dengan realitas kelaparan massal dan blokade bantuan yang terus dilaporkan organisasi internasional.
Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk perdamaian jangka panjang bagi Palestina melalui solusi dua negara, namun detail “kemajuan konkret” yang disebutkannya masih kabur, hanya sebatas retorika optimistis di tengah krisis yang memburuk drastis.
Klaim Kontroversial di Tengah Krisis Gaza
Pernyataan Prabowo bahwa “makan cukup, kebutuhan-kebutuhan lain mengalir deras” di Gaza memicu pertanyaan serius. Laporan PBB, UNICEF, dan berbagai lembaga kemanusiaan justru menyoroti kondisi darurat kelaparan, kekurangan air bersih, dan fasilitas medis yang lumpuh total akibat agresi Israel dan pembatasan akses bantuan.
Klaim “perkembangan positif” dan “tertinggi dalam beberapa tahun terakhir” tidak didukung data independen yang diverifikasi. Narasi ini justru terkesan meremehkan penderitaan puluhan ribu warga sipil Gaza yang menghadapi ancaman kelaparan dan penyakit.
Pertemuan BoP, yang tidak dijelaskan komposisi dan otoritasnya, menjadi panggung bagi klaim-klaim yang jauh dari kenyataan. Absennya rincian spesifik mengenai “kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai” hanya memperkuat kesan bahwa ini adalah pernyataan tanpa substansi konkret, sekadar upaya menenangkan publik.
Fokus pada solusi dua negara memang menjadi posisi konsisten Indonesia, namun Prabowo tidak menguraikan strategi jelas menghadapi penolakan keras Israel terhadap gagasan tersebut, yang justru semakin menguat di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu. Optimisme yang diutarakan terkesan naif di tengah manuver politik dan militer yang justru menjauhkan prospek perdamaian.
Presiden juga mengingatkan perlunya “kewaspadaan terhadap berbagai pihak yang berpotensi menghambat proses perdamaian”, namun gagal mengidentifikasi pihak-pihak tersebut secara gamblang. Ketidakjelasan ini justru mengaburkan aktor sesungguhnya yang bertanggung jawab atas eskalasi konflik dan pemblokiran solusi.
Retorika Optimisme
“Iya, alhamdulillah tadi berjalan dengan baik, lancar ya. Kita lihat kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai,” kata Prabowo seusai pertemuan.
Ia menambahkan, “Jadi makan cukup, kebutuhan-kebutuhan lain mengalir deras. Kemudian kita lihat rencana-rencana ke depan nampaknya sangat serius.”
Prabowo bersikeras, “Ya bagi kita the real the only long lasting solution is two state solution.” Meski demikian, ia mengakui, “Tentunya kita harus waspada kelompok-kelompok yang ingin selalu menggagalkan penyelesaian menyeluruh ya pasti ada dari semua pihak.”
Partisipasi Indonesia dalam forum BoP menegaskan kembali dukungan historis terhadap kemerdekaan Palestina. Namun, retorika optimistis Prabowo mengenai situasi Gaza dan kemajuan perdamaian perlu diuji keras oleh realitas di lapangan, di mana krisis kemanusiaan memburuk dan prospek solusi dua negara semakin jauh dari jangkauan.