Prabowo Ungkap Lonjakan Ekspor CPO Dua Digit: Tahun Manis Industri Sawit Indonesia

2 min read
Prabowo Highlights Two-Digit CPO Export Growth: Indonesia's Palm Oil Industry Booms

Industri minyak sawit Indonesia mencatat tahun manis 2025. Ekspor CPO melonjak dua digit, mencapai $24,42 miliar, naik 21,83% dari 2024. Volume ekspor 23,61 juta ton, naik 9,09%. Minyak sawit juga menjadi pendorong surplus dagang Indonesia. Pemerintah membatasi ekspor residu untuk mendukung produksi biodiesel B40 dan bahan bakar penerbangan.

Prabowo Highlights Two-Digit CPO Export Growth: Indonesia's Palm Oil Industry Booms

Industri minyak sawit Indonesia mencetak rekor fantastis pada 2025, dengan ekspor CPO dan turunannya melonjak dua digit hingga $24,42 miliar. Namun, perayaan ini dihantui tekanan harga global yang anjlok 17,59% secara tahunan, memicu pertanyaan tentang keberlanjutan profitabilitas di tengah gempuran volume. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ini pada Senin, sementara Prabowo Subianto, pemimpin negara, bersikeras pada vitalnya komoditas sawit Indonesia di pasar internasional.

Lonjakan Ekspor dan Volume

Indonesia menggenjot ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya hingga $24,42 miliar sepanjang 2025, melesat 21,83% dari $20,05 miliar pada 2024. Volume pengiriman juga membengkak 9,09%, mencapai 23,61 juta ton dari 21,64 juta ton. Pada Desember 2025 saja, ekspor mendekati $2,8 miliar dengan volume 2,75 juta ton, lonjakan bulanan 102,23% dan tahunan 66,80%.

Dominasi Pasar Kunci

India menjadi pasar utama yang menopang surplus perdagangan Jakarta, dengan minyak nabati dan lemak hewani—didominasi sawit—menyumbang surplus $3,56 miliar. Filipina menyusul, memberikan surplus $990 juta. Ketergantungan pasar-pasar ini terhadap pasokan Indonesia menggarisbawahi posisi strategis sawit di peta perdagangan global.

Ancaman Penurunan Harga

Di balik angka-angka ekspor yang impresif, harga rata-rata minyak sawit global justru terperosok. Pada Desember 2025, harga merosot 17,59% secara tahunan menjadi $980,51 per metrik ton, bahkan turun 0,29% dari bulan sebelumnya. Fenomena ini menyoroti risiko profitabilitas di tengah peningkatan volume, mengikis narasi “tahun manis” bagi industri sawit.

Klaim Permintaan Global

“Ke mana pun saya pergi, baik itu Mesir, Pakistan, Rusia, atau Belarus, mereka [para pemimpin mereka] selalu meminta minyak sawit kami,” ungkap Prabowo dalam pidato yang disiarkan televisi, menekankan bahwa sawit adalah “komoditas yang sangat strategis karena memiliki puluhan turunan, bahkan cat bangunan.” Pernyataan ini menegaskan keyakinan pemerintah akan permintaan tak tergoyahkan, kendati data harga menunjukkan sebaliknya.

Data BPS Konfirmasi Lonjakan Volume

Wakil BPS, Ateng Hartono, pada konferensi pers Senin, mengonfirmasi lonjakan volume ekspor Desember. “Volume ekspor melonjak 102,23% dari bulan ke bulan, dan naik 66,80% dari tahun ke tahun [yoy],” katanya, memberikan angka konkret yang mendukung klaim peningkatan pengiriman.

Peningkatan ekspor sawit ini memang krusial, membantu Indonesia mempertahankan neraca perdagangan positif selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pemerintah tetap teguh pada kebijakan B40—campuran biodiesel berbasis sawit 40%—dan membatasi ekspor residu minyak sawit serta minyak goreng bekas, dengan dalih melindungi pasokan biodiesel domestik dan meningkatkan produksi bahan bakar penerbangan. Langkah ini, meski strategis untuk hilirisasi, juga menempatkan Indonesia pada posisi rentan di pasar global yang fluktuatif.

More like this