Psikologi Undip Masuk Lapas: Misi Dukungan Mental untuk Warga Binaan
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang melalui KKN Tematik Tim 18 memberikan layanan psikologis bagi warga binaan Lapas Kelas I Semarang. Program ini mencakup seminar manajemen stres dan sosialisasi bijak teknologi di Rutan Kelas I Semarang. Tujuannya mendukung reintegrasi sosial dan ketahanan psikologis warga binaan.

Universitas Diponegoro (Undip) Semarang melalui Fakultas Psikologi dan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tim 18 bergerak menyuntikkan layanan psikologis dan edukasi digital bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Semarang pada Februari 2026. Intervensi ini menyoroti minimnya perhatian terhadap kesehatan mental di lingkungan penjara, yang selama ini hanya berfokus pada aspek fisik, padahal kondisi monoton sangat memicu stres dan kelelahan psikologis narapidana.
Krisis Kesehatan Mental di Balik Jeruji
Kondisi di dalam Lapas Kelas I Semarang, menurut Gilang Nur Wicaksono, Ketua KKN T 18 Undip, telah lama mengabaikan aspek kesehatan mental. Warga binaan terperangkap dalam rutinitas monoton, kebingungan, dan kejenuhan akut akibat terbatasnya kegiatan. Ini berujung pada kelelahan psikologis, meski tanpa aktivitas fisik berat.
“Mental health checking” sederhana yang dilakukan tim di lapangan membenarkan kondisi kritis ini. Sejumlah peserta seminar mengaku sering merasakan kecemasan, ketakutan, sulit tidur, dan penurunan semangat dalam dua minggu terakhir. Temuan ini menegaskan darurat layanan kesehatan mental di fasilitas penahanan.
Merujuk urgensi tersebut, program seminar manajemen stres membekali warga binaan dengan strategi praktis: teknik relaksasi pernapasan, latihan menenangkan pikiran, hingga dorongan aktivitas fisik. Selain itu, di Rutan Kelas I Semarang, program “Sosialisasi Bijak Teknologi dan Komunikasi” diselenggarakan untuk membekali etika berkomunikasi dan penggunaan informasi digital secara bertanggung jawab, krusial bagi reintegrasi sosial pasca-pembebasan.
Suara dari Lapangan
Gilang Nur Wicaksono menegaskan, “Saya mengamati perhatian terhadap layanan kesehatan di Lapas Kelas I Semarang lebih berfokus pada aspek fisik. Padahal, layanan kesehatan mental tidak kalah penting, melihat kondisi kehidupan warga binaan di lapas yang cenderung monoton dan berpotensi terhadap timbulnya stres maupun kelelahan psikologis.” Ia menambahkan, “Kami berharap program ini menjadi katalisator kesadaran kesehatan mental di lapas. Fokusnya bukan sekadar kesehatan fisik, tapi membangun ketahanan psikologis warga binaan agar mereka lebih siap menjalani masa pembinaan dan kembali ke masyarakat dengan mental yang lebih sehat.”
Dr.phil. Dian Veronika Sakti Kaloeti, S.Psi., M.Psi, Ketua Tim KKN T 18 Undip, memperjelas, “KKN Tematik ini dirancang sebagai jembatan bagi mahasiswa untuk terjun langsung menghadapi dinamika permasalahan riil di masyarakat, khususnya di lingkungan pemasyarakatan.” Senada, Putri Ayu Sutrisno, S.H., M.H, dosen pembimbing KKN T 18, menekankan, “Kami ingin warga binaan tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga cerdas secara emosional dan taat hukum dalam berinteraksi di ruang publik maupun digital.”
Tuntutan Rehabilitasi Menyeluruh
Kondisi fasilitas pemasyarakatan di Indonesia seringkali luput dari sorotan terkait kesehatan mental penghuninya. Intervensi akademis Undip ini secara telanjang menyingkap celah krusial dalam sistem pembinaan narapidana, yang seharusnya tidak hanya memenjarakan fisik, tetapi juga merehabilitasi jiwa demi mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat sebagai individu yang utuh dan produktif.