Rektor USM Dinobatkan Tokoh Berprestasi Indonesia 2025: Pengakuan Visioner yang Mendahului Waktu
Rektor Universitas Semarang (USM), Dr Supari ST MT, menerima Anugerah Pariwisata Award Top Service Ke-13 sebagai Tokoh Berprestasi Indonesia 2025 dari Lemppar di Semarang. Penghargaan ini mengapresiasi kontribusi signifikan USM dalam kemajuan masyarakat dan pembangunan. Supari menyatakan USM akan terus berkarya untuk manfaat publik. Sebanyak 12 tokoh dan 5 lembaga juga diakui.

Rektor Universitas Semarang (USM), Dr. Supari ST MT, baru-baru ini menyabet gelar “Tokoh Berprestasi Indonesia Tahun 2025” dalam Anugerah Pariwisata Award Top Service Ke-13 di Semarang. Penghargaan ini, yang diserahkan oleh Lembaga Masyarakat Peduli Pariwisata dan Prestasi Bangsa (Lemppar), berlangsung di Hotel Front One HK Resort Hall Sari Pertojo, Semarang, sebelum tanggal 7 Agustus 2025. Klaimnya, Supari dianggap memberikan kontribusi luar biasa yang menginspirasi, bermanfaat nyata, dan mendukung kemajuan masyarakat serta pembangunan.
Namun, di tengah maraknya seremoni penghargaan, validitas dan transparansi kriteria gelar prestisius semacam ini patut dipertanyakan. Apa ukuran pasti “kontribusi luar biasa” yang membuat seorang rektor universitas meraih penghargaan yang seolah-olah mencakup seluruh spektrum kebangsaan dan di sisi lain bernama “Pariwisata Award”? Tanpa indikator yang jelas, gelar ini rentan terjebak dalam euforia apresiasi semu yang minim pijakan data.
Seremoni Masif dengan Kriteria Kabur
Acara yang digelar Lemppar ini tidak hanya mengapresiasi Supari. Total 12 tokoh publik dan 5 lembaga turut menerima penghargaan serupa, menimbulkan keraguan akan keistimewaan gelar “Tokoh Berprestasi Indonesia”. Jika begitu banyak entitas dinobatkan sebagai “berprestasi”, lantas apa yang membedakan satu penerima dengan yang lain, selain sekadar kehadiran di podium?
Kejanggalan muncul dari nama penghargaan itu sendiri: “Anugerah Pariwisata Award Top Service Ke-13” yang kemudian menobatkan “Tokoh Berprestasi Indonesia”. Ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah fokus penghargaan sebenarnya pada sektor pariwisata dan pelayanan, ataukah hanya sebuah label umum yang dipakai untuk mengapresiasi figur dari berbagai latar belakang tanpa korelasi langsung dengan pariwisata?
Lemppar, sebagai penyelenggara, mengklaim acara ini sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh yang dianggap memberikan inspirasi dan manfaat. Namun, tanpa publikasi metode penilaian, panel juri, atau bukti konkret dampak yang telah diukur, klaim “manfaat nyata” tersebut tetap menjadi narasi sepihak yang sulit diverifikasi.
Retorika Apresiasi Versus Dampak Konkret
Menanggapi penghargaan yang diterimanya, Rektor USM Dr. Supari ST MT menyampaikan bahwa apresiasi ini menjadi pemicu semangat. Ia berharap pengakuan ini memacu institusinya untuk terus berkarya.
“Akan memotivasi kami semua di USM untuk terus berkarya dan mendapatkan energi,” ujar Supari. Ia menambahkan, “Yang utama adalah USM ingin memberikan manfaat bagi masyarakat. Ujung dari semua yang kita lakukan adalah bagaimana bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, memberdayakan masyrakat… saya hanya dilewati saja sebagai simbol kontribusi USM untuk kemajuan bangsa.” Pernyataan ini, meski positif, terlalu umum dan gagal merinci capaian spesifik USM atau dirinya yang secara langsung berkorelasi dengan gelar “Tokoh Berprestasi Indonesia” atau “Top Service Pariwisata” yang diberikan.
Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Tanti Apriyani, menyuarakan harapan lain terkait penghargaan ini, yang lebih fokus pada sektor kepariwisataan secara luas.
Tanti berharap penghargaan ini “akan memberikan kualitas dan kapasitas serta pelayanan dari pariwisata yang ada di Jawa Tengah,” dengan tujuan “meningkatkan kunjungan wisata dan dampak terakhirnya adalah pergerakan ekonomi masyarakat di Jawa Tengah, akan semakin meningkat setelah pascapandemi.” Harapan ini terdengar seperti pidato birokratis umum, tanpa mengaitkan secara langsung bagaimana prestasi individu Supari dalam kapasitas rektor dapat secara spesifik mendorong sektor pariwisata atau ekonomi secara signifikan, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi sambutan tersebut dengan penghargaan yang diterima Supari.
Latar Belakang Penghargaan yang Menggantung
Lembaga Masyarakat Peduli Pariwisata dan Prestasi Bangsa (Lemppar) sendiri, dengan nama yang luas, belum transparan mengenai struktur organisasinya, sumber pendanaan, dan rekam jejak penilaian penghargaan sebelumnya. Kredibilitas penyelenggara menjadi krusial ketika mereka secara rutin menganugerahi gelar “prestasi” kepada belasan individu dan lembaga dalam satu waktu.
Fenomena “penghargaan massal” semacam ini bukan hal baru di Indonesia. Seringkali, event-event seperti ini lebih berfungsi sebagai ajang promosi dan relasi, daripada benar-benar menjadi barometer objektif dari kinerja atau inovasi. Masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar seremoni; mereka menuntut akuntabilitas dan bukti nyata di balik setiap gelar “prestasi” yang disematkan.