Sekolah Rakyat: Melampaui Asrama Gratis, Mengukir Bakat Siswa Miskin Lewat Taekwondo dan Seni Tari
Siswa Sekolah Rakyat SRMA 13 Bekasi mencatat prestasi dari berbagai bidang. Mereka meraih 2 emas, 1 perak, 1 perunggu di Taekwondo Bekasi Open III 2026. Grup pencak silat dan seni tari juga memperoleh medali. Sekolah Rakyat mengembangkan minat bakat serta menyediakan pendidikan gratis bagi siswa.

Siswa-siswa dari Sekolah Rakyat SRMA 13 Bekasi, yang mayoritas berasal dari kalangan kurang mampu, berhasil menyabet sejumlah medali emas, perak, dan perunggu dalam berbagai kejuaraan olahraga dan seni bergengsi di Bekasi sepanjang akhir 2025 hingga April 2026. Prestasi ini, termasuk 2 emas di Bekasi Open III Taekwondo Championship 2026, bukan sekadar kebanggaan, melainkan tamparan keras bagi sistem yang kerap mengabaikan potensi anak-anak termarginalkan.
Program Sekolah Rakyat, yang digadang sebagai “hadirnya negara,” menjadi satu-satunya jalan bagi anak-anak ini untuk mengakses pendidikan gratis dan pengembangan bakat yang selama ini tertutup. Fasilitas seragam, pelatih profesional, hingga pembiayaan kejuaraan disuntikkan, mengisi kekosongan yang seharusnya menjadi hak dasar setiap anak, bukan privilese.
Medali di Tengah Keterbatasan
Prestasi mencolok datang dari ekstrakurikuler Taekwondo. Empat siswa- Erin, Adestyawan, Halikinos, dan Fatan- berhasil mengukir sejarah dengan merebut dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu di Bekasi Open III Taekwondo Championship 2026 yang digelar 3-5 April. Ini adalah raihan perdana, bukti nyata potensi terpendam yang menunggu sentuhan.
Tak hanya itu, kelompok pencak silat SRMA 13 Bekasi juga tak kalah gemilang. Dua siswa, Aca dan Jumaroh, berhasil menyabet medali perak dalam Kejuaraan Pencak Silat Candrabaga Cup 4 pada 7-8 Februari 2026. Program pencak silat ini bahkan baru ada atas desakan siswa, memaksa sekolah mendatangkan pelatih dari luar, menunjukkan betapa kuatnya keinginan mereka untuk berkembang.
Bidang seni pun tak luput dari capaian. Kelompok seni tari meraih juara 3 dalam Lomba Pentas Seni Budaya Nusantara (Pesbura) tingkat Kota Bekasi pada 30 November 2025. Fasilitas yang digelontorkan sekolah-mulai dari seragam, pelatih, hingga pembiayaan penuh kejuaraan-menjadi penopang utama di tengah keterbatasan ekonomi para siswa.
Namun, di balik gemerlap medali, tersimpan realitas pahit. Kepala SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, mengakui banyak siswa datang dari latar belakang kehidupan keras, terbiasa bekerja dan memiliki pola hidup tidak teratur. Ini menyoroti kegagalan negara dalam memastikan kesejahteraan dasar dan akses pendidikan yang merata sejak awal.
Pembinaan kedisiplinan melalui kehidupan berasrama menjadi pilar utama. Wali asuh dan wali asrama hadir sebagai pengganti orang tua, mencoba menambal lubang pengasuhan dan pembentukan karakter yang absen akibat kondisi sosial-ekonomi yang mendera keluarga siswa.
Pilar Kedisiplinan dan Harapan
Seorang siswa, yang namanya tidak disebutkan, pernah melontarkan pertanyaan menusuk kepada wali asuh Arya Endang Purnama, “Emang saya boleh punya mimpi ya, Pak?” Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi individu, melainkan cerminan dari sistem yang telah merenggut hak dasar anak-anak untuk sekadar bermimpi.
Para siswa yang kini berprestasi tak luput dari rasa syukur yang bercampur kepolosan. “Terima kasih Pak Presiden (Prabowo Subianto) karena sudah mengadakan Sekolah Rakyat bagi kami. Kami bisa menyalurkan hobi dan melanjutkan sekolah di sini,” ujar Erin, Adestyawan, Halikinos, dan Fatan, seperti dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. Pujian ini secara tak langsung mengukuhkan peran politik di balik program yang seharusnya menjadi kewajiban negara.
Jumaroh, peraih medali perak pencak silat, menambahkan, “Kami bersyukur bisa bersekolah di sini karena selalu difasilitasi dan mendapat dukungan yang sangat kuat.” Hal senada diungkapkan siswa seni tari, “Aku senang hobi aku didukung banget sama Sekolah Rakyat. Semua difasilitasi, jadi tidak bayar sama sekali.” Ketergantungan total pada fasilitas sekolah ini menunjukkan betapa gentingnya situasi mereka sebelum program ini hadir.
Pertanyaan Menusuk tentang Mimpi
Kepala SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, mengklaim Sekolah Rakyat “membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang sebelumnya termarginalkan,” dan “negara hadir untuk masyarakat yang tidak mampu melalui bantuan jangka panjang.” Pernyataan ini secara implisit mengakui kegagalan sistem pendidikan umum dalam menjangkau kelompok ini.
Perubahan terbesar, menurut wali asuh Arya Endang Purnama, bukan hanya pada medali, tetapi pada “keberanian siswa untuk bermimpi dan tampil percaya diri.” Namun, pertanyaan krusial tetap menggantung: berapa banyak lagi anak-anak Indonesia yang masih bertanya apakah mereka boleh bermimpi, dan apakah “bantuan jangka panjang” ini benar-benar solusi permanen atau hanya respons reaktif terhadap masalah struktural yang lebih dalam?