Sekolah Rakyat Ubah Nasib: Anak Ojol Lolos Kuliah Data Analyst di AS

3 min read
Sekolah Rakyat Ubah Nasib: Anak Ojol Lolos Kuliah Data Analyst di AS

Akbar Varel Areva (17) dari Bekasi, anak pengemudi ojek online, kembali bersekolah melalui program pemerintah Sekolah Rakyat. Program ini memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak keluarga miskin, memutus rantai kemiskinan. Di SRMA Bekasi, Akbar kini bercita-cita menjadi Data Science Analyst. Sekolah Rakyat memberikan pendidikan berasrama gratis dengan fasilitas lengkap untuk masa depan siswa.

Sekolah Rakyat Ubah Nasib: Anak Ojol Lolos Kuliah Data Analyst di AS

Akbar Varel Areva (17), anak seorang pengemudi ojek online, kini kembali mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Bekasi, Jawa Barat, setelah sempat putus sekolah akibat keterbatasan akses. Program Sekolah Rakyat ini, yang digagas pemerintah, hadir memutus rantai kemiskinan, namun keberadaannya menelanjangi kegagalan sistem pendidikan nasional dalam menjangkau anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Fenomena Akbar adalah cermin nyata ketimpangan pendidikan di Indonesia. Ribuan anak dari keluarga miskin terpaksa mengubur mimpi sekolah, hingga intervensi program khusus seperti Sekolah Rakyat menjadi satu-satunya jalan keluar, menyoroti lambannya respons negara terhadap hak dasar pendidikan yang merata.

Potensi Terabaikan

Akbar, yang kini duduk di kelas 1 SRMA 13 Bekasi, kembali memupuk mimpinya menjadi seorang Data Science Analyst, bahkan menargetkan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat. Ini adalah ambisi yang sempat meredup saat ia terpaksa putus sekolah karena himpitan ekonomi, sebuah kisah tragis yang dialami jutaan anak Indonesia.

Sekolah Rakyat menawarkan pendidikan berasrama gratis dari tingkat SD hingga SMA, lengkap dengan fasilitas makanan, seragam, buku, dan asrama. Ini adalah tawaran yang meringankan beban ekonomi keluarga-keluarga yang selama ini tercekik oleh biaya pendidikan, namun juga menggarisbawahi kegagalan sistem pendidikan reguler yang belum mampu menyediakan akses setara tanpa beban finansial.

Program ini juga menyediakan tes bakat, ekstrakurikuler robotika, dan akses internet, sebuah fasilitas yang seharusnya menjadi standar di setiap sekolah, bukan hanya di program khusus. Kehadiran fasilitas ini di Sekolah Rakyat justru memperlihatkan jurang kualitas antara sekolah untuk kaum mampu dan sekolah bagi mereka yang kurang beruntung.

Akbar, peraih medali nasional di bidang Olimpiade Matematika, adalah bukti potensi luar biasa yang kerap terabaikan karena hambatan ekonomi. Bakatnya baru bisa diasah setelah adanya program yang menanggung seluruh biaya dan fasilitas pendidikannya.

Suara Penerima Manfaat

“Cita-cita saya menjadi Data Science Analyst,” ungkap Akbar, seperti dikutip dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. “Sebelum saya masuk SR ini kan ada tes bakat. Dari tes itu ternyata saya lebih condong ke bidang Explorer, Strategizer, dan Analyzer.”

Ia menambahkan, “Cita-cita saya yang ingin menjadi Data Science Analyst itu didukung terus oleh guru saya, begitu juga teman-teman saya yang terus memotivasi saya. Guru juga di sini memfasilitasi dalam berbagai hal, seperti pendidikan, kemudian akses internetnya juga.”

Akbar juga menyoroti, “Di SR ini juga tidak ada yang memiliki status senioritas atau apa pun. Jadi semuanya sama rata. Karena di SR ini prinsipnya, cerdas bersama, tumbuh setara.”

Cermin Ketidaksetaraan

Sekolah Rakyat, dengan segala fasilitasnya, adalah pengakuan tersirat atas kegagalan negara dalam memastikan hak pendidikan merata bagi setiap warga. Keberadaan program ini adalah respons terhadap jurang lebar akses pendidikan berkualitas yang selama ini membelenggu anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Program ini memposisikan diri sebagai pemutus rantai kemiskinan. Namun, skala implementasi dan keberlanjutannya akan menjadi ujian nyata komitmen pemerintah terhadap kesetaraan pendidikan, bukan sekadar solusi tambal sulam.

More like this