Srobong Gobang: Tradisi Tak Lazim Lereng Sumbing yang Masih Menggema

2 min read
Srobong Gobang: Unveiling Mount Sumbing's Enduring Unique Tradition

Warga lereng Gunung Sumbing di Desa Tlilir, Temanggung, menggelar tradisi nyadran dan jamasan srobong gobang. Tradisi tahunan ini merupakan momentum penting untuk membersihkan diri serta menyingkirkan hal negatif. Prosesi mencuci srobong gobang mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan kebersamaan. Kegiatan ini juga memperkuat ikatan sosial dan kearifan lokal.

Srobong Gobang: Unveiling Mount Sumbing's Enduring Unique Tradition

Warga di lereng Gunung Sumbing, tepatnya Desa Tlilir, Tlogomulyo, Temanggung, Jawa Tengah, menggelar tradisi tahunan jamasan srobong gobang—pencucian alat pemotong tembakau—pada Jumat (30/1/2026). Ritual ini diklaim masyarakat setempat sebagai upaya membersihkan diri dari hal negatif, baik lahir maupun batin.

Kepala Desa Tlilir, Faturohman, menyatakan ritual ini adalah momentum krusial untuk pembersihan menyeluruh. Puncak kegiatan, yang melibatkan pawai keliling dusun, berakhir di pemakaman umum.

Ritual Pembersihan Diri dan Sosial

Prosesi dimulai sejak pagi hari, saat puluhan warga berkumpul di kantor desa sebagai titik awal kegiatan. Dari sana, masyarakat berjalan bersama mengelilingi dusun sebelum akhirnya menuju lokasi pemakaman umum.

Sebelum bergerak ke pemakaman, para tokoh masyarakat melakukan ritual inti: mencuci srobong gobang, alat yang esensial bagi mata pencarian tembakau mereka. Seluruh rangkaian kegiatan ini berlangsung secara gotong royong, digadang-gadang sebagai cerminan kuatnya nilai kebersamaan yang masih terjaga.

Setibanya di makam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama, tahlilan, dan pengiriman doa untuk para leluhur yang telah meninggal dunia, mengukuhkan klaim spiritual dari tradisi ini.

Klaim Persatuan dalam Ritual

Faturohman dengan tegas menyatakan, “Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat kekompakan dan gotong royong masyarakat. Kami selalu mengedepankan kebersamaan. Ketika kita bersatu, semua terasa lebih ringan karena dijalani bersama-sama.”

Ia menambahkan, ritual ini berfungsi sebagai “pembelajaran sosial bagi warga, khususnya generasi muda, tentang arti persatuan dan rasa memiliki terhadap desa.”

“Harapannya masyarakat bisa merasakan satu rasa dan satu tujuan. Dari sinilah nilai kebersamaan itu tumbuh dan terus diwariskan,” pungkas Faturohman, menggarisbawahi narasi tentang penguatan ikatan sosial.

Tradisi nyadran srobong gobang, menurut Faturohman, menjadi bukti “kearifan lokal masih hidup”, menjaga harmoni antarmanusia, alam, dan nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun—sebuah klaim yang patut diuji efektivitasnya di tengah kompleksitas tantangan modern.

Latar Belakang dan Relevansi

Nyadran dan jamasan srobong gobang adalah ritual tahunan yang mengakar kuat di Desa Tlilir, sebuah komunitas agraris di lereng Gunung Sumbing yang sangat bergantung pada tembakau.

Tradisi ini terus dipertahankan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas lokal, namun implikasi praktis serta relevansinya di era kontemporer sering kali menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi dan prioritas komunitas.

More like this