Strategi Bank Indonesia: Biochar, Senjata Baru Hadapi Krisis Pangan dan Inflasi

3 min read
Bank Indonesia's Biochar Strategy: Tackling Food Crisis & Inflation

Pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penyederhanaan regulasi pertanian dan teknologi hijau berkelanjutan. Penyederhanaan aturan pupuk bersubsidi dari 147 menjadi 3 kebijakan utama meningkatkan produktivitas pertanian. Pemanfaatan biochar dan Climate Smart Agriculture (CSA) didukung Bank Indonesia untuk stabilitas harga pangan, mendorong swasembada, dan kesejahteraan petani.

Bank Indonesia's Biochar Strategy: Tackling Food Crisis & Inflation

Pemerintah mengklaim telah mengintensifkan upaya ketahanan pangan nasional melalui pemangkasan regulasi pupuk secara drastis dan pemanfaatan teknologi hijau biochar. Di Semarang, Senin (9/2/2026), Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kus Prisetiahadi, menyatakan 147 peraturan pupuk kini diringkas menjadi hanya tiga, sebuah langkah yang disebutnya akan menyederhanakan distribusi pupuk bersubsidi. Namun, efektivitas riil dari penyederhanaan ini dalam mengatasi kelangkaan dan akses petani masih menjadi pertanyaan besar.

Langkah ini, yang juga ditandai dengan peluncuran model bisnis pertanian berkelanjutan berbasis biochar, datang di tengah janji peningkatan produksi pangan signifikan—beras naik 13,29 persen dan jagung 6,74 persen pada 2025 dibanding 2024. Kendati demikian, tantangan struktural seperti keterbatasan lahan dan perubahan iklim tetap membayangi, menimbulkan keraguan apakah kebijakan administratif semata cukup membendung ancaman krisis pangan.

Pemangkasan Regulasi Pupuk: Solusi atau Kosmetik?

Penyederhanaan regulasi pupuk dari 147 menjadi tiga peraturan utama diklaim memangkas birokrasi yang selama ini menghambat petani. Skema penyaluran baru memungkinkan pupuk bergerak langsung dari produsen ke gapoktan, koperasi, atau distributor, menghilangkan jalur panjang melalui provinsi, kabupaten, hingga kecamatan. Pemerintah berkeras, kebijakan ini akan mempercepat akses petani terhadap pupuk, elemen krusial untuk mendongkrak produksi.

Kus Prisetiahadi menegaskan, dengan dukungan pupuk yang tepat, bibit unggul, dan perbaikan sistem irigasi, produksi pangan nasional “diyakini akan terus meningkat.” Pernyataan ini muncul saat bibit unggul menjadi tumpuan harapan menghadapi suhu ekstrem dan banjir rob—tantangan iklim yang nyata dan kerap mengancam panen.

Namun, di balik klaim efisiensi ini, persoalan mendasar tentang ketersediaan pupuk, akurasi data petani penerima, dan praktik penyelewengan di lapangan belum sepenuhnya terjawab. Pemangkasan aturan mungkin mempercepat alur, tetapi tidak serta-merta menjamin ketersediaan dan keterjangkauan bagi petani kecil yang sering terpinggirkan.

Biochar dan Stabilitas Ekonomi: Janji Bank Indonesia

Deputy Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, Andi Riena Sari, menyoroti peran teknologi biochar sebagai solusi bagi lahan pertanian terkontaminasi bahan kimia, sekaligus mendukung “teknologi hijau yang berkelanjutan.” Ia menekankan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar urusan pertanian, melainkan “sangat terkait dengan stabilitas ekonomi karena berpengaruh langsung terhadap inflasi,” khususnya pada kelompok volatile food yang harganya bergejolak.

“Pemanfaatan biochar, bersama inovasi lain seperti Biosalin dan Biosilus SP, mengarah pada teknologi hijau yang kita harapkan dapat menjaga keberlanjutan lingkungan bagi anak cucu kita ke depan,” ujar Andi. Klaim ini mengiringi peluncuran Buku Pedoman Model Bisnis Pertanian Berkelanjutan berbasis Climate Smart Agriculture (CSA) Biochar, sebuah panduan yang “diharapkan menjadi panduan praktis yang dapat direplikasi oleh UMKM pertanian dan kelompok tani.”

Potensi Ekonomi dan Realita Lapangan

Pemanfaatan biochar dijanjikan mampu meningkatkan daya simpan air tanah, memperbaiki efisiensi pemupukan, meningkatkan kesuburan tanah, dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Bahkan, penurunan emisi karbon ini disebut berpotensi disertifikasi dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.

BI menegaskan, peluncuran pedoman ini bukan hanya seremoni, melainkan akan ditindaklanjuti dengan pendampingan lapangan dan sinergi lintas sektor. Meski demikian, janji “kesejahteraan petani semakin cetar” melalui teknologi biochar masih harus dibuktikan di tengah realitas kompleks sektor pertanian Indonesia. Sinergi dan pendampingan yang dijanjikan pemerintah dan BI patut diawasi ketat, sebab tanpa implementasi konkret yang menjangkau seluruh lapisan petani, kebijakan ini berisiko hanya menjadi sewacana.

More like this