Surplus Rp1,54 Miliar BUMDesma Singorojo: Bukti Ekonomi Desa Berbagi Manfaat Langsung ke Masyarakat.
BUMDesma Permata Madani Paramarta Kendal mencatat surplus bersih Rp1,54 miliar pada 2025. BUMDesma di Desa Kedungsari ini mengelola tujuh unit usaha, termasuk dana bergulir masyarakat dan minimarket. Surplus dialokasikan untuk dana sosial, peningkatan kapasitas, dan bagi hasil ke desa. Keberhasilan BUMDesma ini diapresiasi.
BUMDesma Permata Madani Paramarta di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kendal, mengumumkan surplus bersih operasional tahun 2025 mencapai Rp1,54 miliar pada Rabu, 4 Februari 2026, memicu sorotan terhadap potensi model bisnisnya sekaligus tantangan replikasi bagi BUMDesma lain yang kerap terseok.
Capaian Finansial Mengejutkan
Surplus masif tersebut, tepatnya Rp1.540.989.764, didominasi oleh dana bergulir masyarakat sebesar Rp1.466.931.430, sementara unit usaha lainnya menyumbang Rp74.058.334. Angka ini menandai pertumbuhan signifikan yang patut dipertanyakan di tengah iklim ekonomi desa yang fluktuatif serta berbagai hambatan birokrasi dan pasar.
BUMDesma ini mengelola tujuh unit usaha, meliputi dana bergulir masyarakat, pembiayaan, kemitraan usaha ekonomi, mini market, pom mini, toko pertanian, dan rental mobil. Dengan 21 pegawai dan dua lokasi operasional di Desa Ngareanak serta Kedungsari, total aset BUMDesma kini mencapai Rp21.082.617.596, di mana Rp18.997.436.504 berasal dari dana bergulir masyarakat.
Dana surplus dialokasikan secara spesifik: Rp395 juta untuk dana sosial, Rp395 juta untuk peningkatan kapasitas, Rp128,2 juta sebagai bagi hasil ke desa, dan Rp323.089.764 untuk tambahan modal usaha. Alokasi ini, meski tampak merata, perlu diawasi ketat implementasinya agar tepat sasaran dan tidak sekadar laporan di atas kertas.
Respon Direktur dan Bupati
Direktur BUMDesma Permata Madani Paramarta, Nur Yasin, menyatakan, “Alhamdulillah, pada tahun 2025, BUMDesma Permata Madani Paramarta berhasil membukukan surplus bersih sebesar Rp1.540.989.764.” Yasin merinci, dana sosial disalurkan dalam bentuk 869 paket sembako senilai Rp156,42 juta, bantuan TPQ dan Madin Rp31,95 juta, bedah rumah Rp7,6 juta, serta pembangunan musala dan modal usaha kecil. Namun, rincian dampak jangka panjang dari bantuan ini masih menjadi pertanyaan, apakah hanya bantuan sesaat atau benar-benar memberdayakan.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengapresiasi capaian ini, sembari meluncurkan dana desa dengan bagi untung Rp128,2 juta. “Harapannya, para Direktur BUMDesma di Kendal bisa termotivasi atas capaian BUMDesma Permata Madani Paramarta ini,” ujar Bupati. Pernyataan ini secara implisit menyoroti bahwa banyak BUMDesma lain belum mencapai performa serupa, menuntut strategi konkret, bukan sekadar harapan kosong.
Anomali di Tengah Tantangan BUMDesma
Keberhasilan BUMDesma Permata Madani Paramarta ini kontras dengan realitas banyak BUMDesma di Indonesia yang masih berjuang keras, bahkan kolaps, karena pengelolaan buruk, kurangnya inovasi, atau intervensi politik. Kasus ini menjadi anomali yang menuntut kajian mendalam agar modelnya tidak hanya jadi cerita sukses sesaat, tetapi cetak biru yang bisa diadaptasi secara berkelanjutan dan transparan.




