Tak Disangka! Mahasiswa UMS Sulap Limbah Kulit Jagung Jadi Hydrozea, Hidrogel Ramah Lingkungan Inovatif

2 min read
Mahasiswa UMS Sulap Limbah Kulit Jagung Jadi Hydrozea, Hidrogel Ramah Lingkungan Inovatif

Mahasiswa Teknik Kimia UMS mengembangkan Hydrozea, hidrogel penyerap air inovatif dari limbah kulit jagung. Produk ramah lingkungan ini memanfaatkan kandungan selulosa tinggi. Ditambah essential oil chamomile, Hydrozea berfungsi sebagai antibakteri dan aromaterapi alami. Solusi ini pengganti silika gel sintetis yang tidak terurai, menawarkan opsi berkelanjutan mengatasi kelembapan udara ruangan.

Mahasiswa UMS Sulap Limbah Kulit Jagung Jadi Hydrozea, Hidrogel Ramah Lingkungan Inovatif

Tim mahasiswa Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Solo baru saja memecah kebuntuan masalah kelembapan ruangan dengan meluncurkan Hydrozea pada Kamis, 5 Februari 2026—sebuah hidrogel penyerap air berbasis limbah kulit jagung yang menjanjikan alternatif ramah lingkungan, menampar keras ketergantungan pada silika gel sintetis yang merusak bumi.

Inovasi Berbasis Limbah Pertanian

Inovasi ini lahir dari riset tim yang terdiri dari Shyerly Fauziah Nur Rizki, Siti Nurazilla, Rajiv Tamim Wicaksana, Mia Oktafia, dan Rafeyfa Nadira Zakauha. Mereka memanfaatkan kulit jagung (zea mays) yang melimpah sebagai limbah pertanian, memilihnya karena kandungan selulosanya yang tinggi. Tidak hanya itu, Hydrozea diperkaya *essential oil chamomile* yang berfungsi ganda sebagai penyerap kelembapan alami sekaligus agen antibakteri dan aromaterapi.

Ancaman Silika Gel Sintetis

Langkah ini krusial. Selama ini, kelembapan tinggi di ruangan memicu bau tak sedap, jamur, dan mikroorganisme berbahaya, mengancam kenyamanan serta kesehatan pernapasan. Solusi konvensional—silika gel sintetis—memang efektif menyerap kelembapan, namun adalah bom waktu lingkungan: tidak terurai, menghasilkan residu kimia berbahaya. Dunia butuh terobosan, bukan kompromi.

Proses Pengembangan dan Keunggulan

Penelitian intensif selama enam minggu di laboratorium Teknik Kimia UMS membuktikan kelayakan Hydrozea. Prosesnya dimulai dari isolasi selulosa kulit jagung yang diperoleh dari petani Sukoharjo, dilanjutkan dengan sintesis hidrogel. Penambahan *essential oil chamomile* tidak merusak struktur polimer, justru menambah fungsi antiinflamasi dan menenangkan. Lebih jauh, hidrogel ini bisa dikeringkan dan digunakan kembali, memperpanjang masa pakainya secara signifikan.

Kritik terhadap Solusi Konvensional

“Kelembapan udara tinggi seringkali menyebabkan bau tidak sedap, jamur, dan pertumbuhan mikroorganisme berbahaya. Ini menimbulkan ketidaknyamanan serta dapat berdampak pada kesehatan pernapasan manusia,” tegas Shyerly. Ia menambahkan, “Solusi konvensional menggunakan silika gel sintetis memang efektif, tapi tidak ramah lingkungan karena tidak dapat terurai secara hayati dan berpotensi menghasilkan residu kimia berbahaya. Inovasi produk penyerap kelembapan berbahan dasar alami yang aman, *biodegradable*, dan mendukung prinsip *green technology* mutlak diperlukan.”

Potensi Reusability dan Dampak Lingkungan

Siti Nurazilla, peneliti lain, memperkuat, “Hydrozea memiliki komposisi kimia yang sesuai, kestabilan struktural tinggi, dan kemampuan penyerapan kelembapan efektif. Ini menjadikannya kandidat potensial untuk material alami penyerap kelembapan ramah lingkungan.” Ia juga menyoroti kemampuan produk untuk diaktifkan kembali: “Hidrogel ini dapat dikeringkan kembali setelah jenuh air menggunakan sinar matahari atau oven bersuhu rendah, menunjukkan potensi *reusability* yang baik dan ramah lingkungan.”

Hydrozea bukan sekadar inovasi, melainkan pernyataan tegas terhadap praktik industri yang merusak. Dengan potensi tinggi sebagai Natural Air Purification (NAP) pengganti bahan sintetis, temuan ini mendesak untuk diimplementasikan secara luas, mendorong masa depan yang lebih hijau dan bebas racun.

More like this