Tegal Art Festival: Seni, Pilar Utama Penguatan Identitas Kultural

3 min read
Tegal Art Festival: Strengthening Cultural Identity Through Art

Tegal Art Festival “Sanubahari” dibuka Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono di Gedung Lanal Kota Tegal. Pameran seni rupa ini berlangsung 23-29 Agustus, terbuka untuk umum. Festival bertujuan memperkuat identitas kultural Kota Tegal. Pemerintah Kota Tegal berkomitmen mendukung inisiatif seni dan budaya demi ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.

Tegal Art Festival: Strengthening Cultural Identity Through Art

Tegal diwarnai perhelatan seni yang sarat klaim ambisius. Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono membuka Pameran Seni Rupa Tegal Art Festival “Sanubahari” di Gedung Lanal Kota Tegal, Sabtu sore, 23 Agustus 2025. Acara ini digadang-gadang sebagai pendorong identitas kultural dan motor ekonomi lokal, meski efektivitasnya masih dipertanyakan.

Festival yang berjalan hingga 29 Agustus 2025 ini disebut-sebut akan mengubah citra Kota Tegal dari sekadar pusat perdagangan menjadi kota kreatif dan inovatif. Namun, narasi ini muncul di tengah minimnya indikator keberhasilan konkret dan fokus pada retorika daripada hasil nyata.

Detail Perhelatan

Pembukaan festival ditandai dengan aksi melukis dan cap jari di kanvas oleh sejumlah pejabat, termasuk Wali Kota Dedy Yon dan Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal Suriali Andi Kustomo. Kegiatan ini menampilkan pameran lukisan, serta beragam seni tradisi seperti tari barong, dagelan tegalan, dan sintren. Pemutaran film dokumenter dan film juga tersebar di lima lokasi strategis Kota Tegal, memperluas jangkauan festival ke masyarakat.

Klaim festival ini adalah “membuka ruang kreatif yang berdampak pada perekonomian” bagi generasi muda, UMKM kreatif, dan pariwisata daerah. Namun, detail konkret tentang mekanisme dan target dampak ekonomi tersebut belum terurai jelas. Narasi ini lebih terdengar seperti upaya pemerintah untuk menampilkan wajah baru tanpa strategi implementasi yang matang.

Pelibatan seniman tidak hanya dari Kota Tegal, melainkan juga dari Brebes hingga Pekalongan, memunculkan pertanyaan tentang fokus identitas “Tegal” yang ingin diperkuat. Apakah ini menunjukkan inklusivitas atau justru mengaburkan esensi lokalitas yang diklaim sebagai tujuan utama?

Pernyataan Resmi dan Harapan

Wali Kota Dedy Yon Supriyono menyatakan, “Bagi Kota Tegal, seni memiliki peran penting. Selain memperkuat identitas kultural, seni juga membuka ruang kreatif yang berdampak pada perekonomian, khususnya bagi generasi muda, pelaku UMKM kreatif, hingga pariwisata daerah.” Ia menambahkan, “Pemerintah Kota Tegal berkomitmen mendukung berbagai inisiatif seni dan budaya, agar Tegal tidak hanya dikenal sebagai kota perdagangan dan jasa, tetapi juga kota yang kaya dengan kreativitas dan inovasi di masyarakat.” Pernyataan ini menegaskan ambisi besar, namun tanpa rincian langkah konkret.

Dedy Yon juga mengaitkan tema “Sanubahari” dengan semangat pembaharuan. “Tema ini menggambarkan semangat baru, denyut kehidupan, dan kesadaran kolektif untuk terus memperbarui diri tanpa melupakan akar budaya,” ujarnya, merujuk pada upaya mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan perkembangan kontemporer.

Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, Suriali Andi Kustomo, menjelaskan alasan pemilihan Gedung Lanal sebagai lokasi. “Kita sengaja menggelar di Mako Lanal karena ada unsur bahari,” kata Suriali. Ia juga menegaskan jangkauan festival yang luas, “melibatkan seniman-seniman muda dan senior di Kota Tegal juga menjangkau Brebes sampai Pekalongan.”

Komandan Lanal Tegal, Letkol Laut (P) Tato Taufiqurochman, menambahkan, “Harapan kami festival ini dapat menjadi sumber inspirasi memperkuat jejaring antar pelaku seni serta menumbuhkan semangat berkarya dan mencintai budaya lokal di tengah arus globalisasi.” Pernyataan ini menutup dengan harapan yang luas, namun belum menyentuh evaluasi keberlanjutan.

Desakan Konkret

Festival ini merupakan salah satu acara utama Dewan Kesenian Tahun 2025, yang diklaim sebagai upaya mendekatkan masyarakat Tegal dengan kesenian dan menjadikannya kota yang lebih apresiatif terhadap seni. Namun, tanpa pengukuran dampak yang jelas, klaim ini tetap menjadi janji manis.

Pemerintah Kota Tegal perlu membuktikan bahwa “komitmen” mereka terhadap seni dan budaya bukan hanya sebatas seremonial dan retorika kosong, melainkan diwujudkan dalam program berkelanjutan dengan dampak nyata pada ekosistem seni dan ekonomi kreatif di Tegal.

More like this