Terobosan Medis Inggris: Kelahiran Bayi Pertama dari Rahim Donor Jenazah
Hugo, bayi pertama di Inggris, lahir dari rahim hasil transplantasi pendonor meninggal. Kelahiran ini menjadi harapan baru bagi wanita dengan Sindrom MRKH yang tidak memiliki rahim. Prosedur medis ini melibatkan operasi transplantasi rahim dan IVF, menandai kemajuan penting dalam kedokteran reproduksi. Rahim akan diangkat setelah kehamilan.

Seorang bayi laki-laki, Hugo, lahir di London sebelum Natal 2025, menandai terobosan medis kontroversial: ia adalah anak pertama di Inggris yang dikandung dan dilahirkan dari rahim hasil transplantasi dari pendonor meninggal. Pencapaian ini, meski dirayakan sebagai “hadiah kehidupan” oleh ibunya, Grace Bell, sekaligus menyoroti kompleksitas dan konsekuensi jangka panjang dari upaya manusia melawan infertilitas absolut.
Grace Bell, wanita berusia awal 30-an asal Kent, Inggris, didiagnosis Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) sejak remaja, kondisi bawaan yang membuatnya terlahir tanpa rahim. Kondisi ini, yang menyerang sekitar satu dari 5.000 perempuan, secara fundamental menghalangi Grace untuk mengandung anak biologisnya sendiri. Selama 25 tahun, organisasi medis Womb Transplant UK berupaya merealisasikan mimpi wanita seperti Grace, yang kini terwujud melalui prosedur medis rumit dan berisiko.
Grace Bell menyebut kehadiran putranya sebagai “hadiah kehidupan” yang tak pernah ia bayangkan. Pernyataan ini membongkar beban emosional dan harapan besar yang diemban oleh prosedur berisiko tinggi tersebut, sebuah pertaruhan besar antara keinginan memiliki keturunan dan tantangan medis yang ekstrem.
Operasi Transplantasi 10 Jam yang Brutal
Kesempatan Grace datang pada Juni 2024 ketika rahim dari seorang pendonor meninggal ditemukan cocok. Tim medis spesialis transplantasi di Oxford melakukan operasi pemindahan rahim selama 10 jam. Prosedur brutal ini menjadikan Grace sebagai perempuan pertama di Inggris yang menerima rahim dari pendonor yang telah meninggal, sebuah langkah berani yang dipimpin oleh Profesor Richard Smith dari Womb Transplant UK.
Proses IVF yang Krusial
Pasca-pemulihan dari operasi transplantasi yang masif, Grace menjalani prosedur bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF). Metode ini krusial karena rahim yang ditransplantasikan tidak terhubung secara alami dengan sistem reproduksi tubuhnya. Melalui IVF, embrio kemudian ditanamkan ke dalam rahim baru Grace, hingga akhirnya berhasil menghasilkan kehamilan dan kelahiran Hugo yang dilaporkan dalam kondisi sehat.
Konsekuensi Jangka Panjang Transplantasi
Terlepas dari keberhasilan awal, rahim transplantasi ini tidak direncanakan untuk berada secara permanen di dalam tubuh Grace. Setelah ia menyelesaikan rencana kehamilan di masa depan, rahim tersebut akan diangkat kembali melalui operasi. Langkah ini diambil untuk menghindari konsumsi obat penekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan) seumur hidup, yang diperlukan untuk mencegah penolakan organ namun membawa risiko kesehatan jangka panjang yang serius. Ini menegaskan bahwa transplantasi bukan solusi permanen, melainkan jembatan kehamilan berisiko tinggi.
Secara global, lebih dari 100 transplantasi rahim telah dilakukan, menghasilkan lebih dari 70 kelahiran bayi. Namun, kelahiran Hugo di Inggris dari rahim pendonor meninggal adalah babak baru yang menawarkan harapan—sekaligus memaparkan realitas medis yang menantang—bagi perempuan yang menderita infertilitas absolut.