Terungkap: Bagaimana MBG Mengubah Kios Buah Laweyan Jadi Pendorong Ekonomi Petani Lokal
Santi, warga Solo, bangkit setelah usaha restorannya terdampak pandemi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberinya peluang sebagai pemasok buah lokal. Kini, 30 dapur MBG disuplai, memberdayakan petani lokal dari Tuban, Lampung, Ngawi, serta menciptakan lapangan kerja bagi 20 warga sekitar.

Seorang warga Solo, Santi, bangkit dari keterpurukan bisnis restoran akibat pandemi Covid-19 dengan memanfaatkan peluang dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia kini menjadi pemasok buah bagi puluhan dapur MBG, memberdayakan setidaknya 20 tetangga dan petani lokal. Namun, model bisnis ini sepenuhnya bergantung pada keberlanjutan program pemerintah yang masih menjadi sorotan publik.
Kisah Santi, yang merintis Toko Buah Segar Nusantara di Kerten, Solo, ini menyoroti bagaimana inisiatif pemerintah dapat menciptakan lapangan kerja instan, meskipun pertanyaan tentang keberlanjutan ekonomi jangka panjang tanpa intervensi program masih menggantung. Dari hanya menyuplai satu dapur, kini ia melayani hampir 30 dapur MBG, mengubah nasibnya dari bangkrut menjadi pengusaha yang menyerap tenaga kerja.
Mengubah Kebangkrutan Menjadi Peluang
Pandemi Covid-19 menghantam usaha restoran Santi hingga ambruk. Alih-alih mendirikan dapur MBG sendiri, ia melihat celah sebagai pemasok buah, sebuah adaptasi strategis yang langsung membuahkan hasil. Kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan spesifik dapur MBG – mulai dari jenis buah hingga ukuran yang harus masuk “ompreng” – menjadi kunci suksesnya.
Awalnya hanya melayani satu dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kini jaringan pasokannya meluas hingga hampir 30 dapur MBG setiap hari. Buah-buah lokal seperti semangka dari Tuban, pisang dari Lampung, dan melon dari Ngawi menjadi komoditas utama, dipasok langsung dari kelompok tani. Ini menunjukkan bagaimana program pemerintah langsung menciptakan permintaan pasar yang besar dan terstruktur.
Santi secara agresif menyesuaikan diri dengan permintaan, bahkan saat dapur MBG mengeluhkan ukuran jeruk yang terlalu besar atau kelangkaan pisang saat bulan puasa. Ia langsung mengganti jeruk dengan ukuran 10-12 buah per porsi dan terus mencari sumber pasokan baru, menunjukkan kelincahan bisnis yang dipicu oleh kebutuhan program.
Ketergantungan pada program ini juga terlihat saat harga buah lokal melambung karena pasokan menipis. Bagi Santi, ini bukan ancaman, melainkan “tantangan” untuk mencari lebih banyak petani. Ini mengindikasikan bahwa stabilitas pasokan dan harga di pasar lokal kini terikat erat dengan kebutuhan program MBG.
Usaha Toko Buah Segar Nusantara kini mempekerjakan sekitar 20 warga sekitar, mulai dari administrasi, penyortir, hingga pengemudi. Penciptaan lapangan kerja ini, meski signifikan bagi individu yang terlibat, tetap berada dalam bayang-bayang program pemerintah yang mendasarinya.
Ketergantungan dan Dampak Politik
“Saya cuma satu dapur awalnya. Saya dipercaya untuk setiap hari menyuplai buah-buah lokal,” ujar Santi, mengenang awal mula usahanya. “Alhamdulillah, ini sudah hampir di 30-an dapur yang setiap hari kita suplai.” Dia juga menjelaskan kolaborasinya, “Kalau yang dari lokal, kita kerja sama dengan petani langsung, kelompok tani.”
Santi secara eksplisit mengaitkan keberhasilan ini dengan figur politik, menyatakan, “Terima kasih Pak Prabowo. Program ini sangat membantu, terutama petani-petani. Dan berguna untuk masyarakat.” Pernyataan ini menegaskan dimensi politis di balik implementasi program yang menciptakan peluang bisnis dadakan ini.
Salah satu pekerja yang diuntungkan adalah Heni (51 tahun), warga Boyolali, seorang janda dengan tiga anak. “Saya janda anak tiga. Saya sebagai tulang punggung keluarga. Dulu pengangguran, sekarang dapat peluang kerja. Bisa nyenengin diri sendiri dan anak,” kata Heni. Ia berharap program MBG “dapat terus berjalan,” menunjukkan betapa krusialnya program ini bagi kelangsungan hidupnya.
Pertanyaan Kritis atas Keberlanjutan
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu janji kampanye Presiden terpilih Prabowo Subianto. Implementasinya, seperti yang terlihat pada kasus Santi, memang mampu menggerakkan roda ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru secara cepat.
Namun, keberhasilan ini tidak lepas dari pertanyaan kritis tentang efisiensi alokasi anggaran, potensi distorsi pasar, dan keberlanjutan program dalam jangka panjang tanpa intervensi politik yang terus-menerus. Ketergantungan ekonomi pada janji politik selalu menyimpan risiko tersendiri.