TNI Menjangkau: Dokter dan Nakes Susuri Rumah Warga Terdampak Bencana, Pastikan Kesehatan Terjamin
TNI menyediakan pelayanan kesehatan keliling di Sumatera Utara pascabencana banjir untuk mencegah penyebaran penyakit. Dokter dan nakes TNI memberikan pengobatan gratis bagi warga terdampak, menjangkau rumah-rumah di Tapanuli Tengah. Ini memastikan pemulihan kesehatan masyarakat. Sinergi TNI dan pemerintah daerah terus diperkuat.

TNI mengerahkan tim kesehatan keliling ke Sumatra Utara, secara langsung menangani krisis kesehatan pascabanjir yang melanda wilayah tersebut. Intervensi militer ini mengungkap rapuhnya sistem kesehatan sipil dalam merespons darurat bencana.
Sejak Jumat (6/2), dokter dan tenaga kesehatan TNI menyisir rumah-rumah warga dan tenda pengungsian di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, Sumut. Mereka memberikan pengobatan gratis dan konsultasi, menanggapi kebutuhan mendesak warga terdampak.
Kegagalan Respons Awal
Di Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah, tim TNI mengobati seorang balita yang terserang demam dan batuk pilek. Pemandangan serupa terlihat di Desa Bonan Lumban, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, di mana nakes TNI mengecek tekanan darah warga yang terisolir.
Layanan kesehatan militer ini juga menjangkau tenda pengungsian di Kelurahan Lopian, Desa Hutanabolon Simp Sipange (Kecamatan Tukka), Desa Aek Ngadol (Kecamatan Batang Toru), dan Desa Batu Hula (Kecamatan Batang Toru). Seluruhnya di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
Kebutuhan mendesak akan layanan kesehatan di tengah lumpuhnya akses dan infrastruktur pascabanjir memperjelas adanya kesenjangan serius dalam kesiapan respons bencana. Mengapa warga harus menunggu intervensi TNI untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar?
Situasi ini menyoroti minimnya koordinasi atau kapasitas pemerintah daerah dan institusi kesehatan sipil dalam memberikan bantuan esensial secara cepat dan merata. TNI kini memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab kolektif.
Komitmen Pemerintah Dipertanyakan
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk pemulihan pascabencana secara menyeluruh, termasuk layanan kesehatan. Pernyataan ini kini diuji langsung di lapangan, di mana TNI menjadi tulang punggung penanganan medis.
Pemerintah juga mengklaim “sinergi” antara TNI, pemerintah daerah, dan tenaga kesehatan akan diperkuat agar proses rehabilitasi berjalan cepat. Namun, kehadiran tim kesehatan keliling TNI secara masif ini justru menunjukkan bahwa sinergi tersebut, jika ada, belum berjalan efektif di garis depan.
Ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah komitmen dan sinergi yang digaungkan hanya retorika belaka, sementara di lapangan, militer yang harus menambal lubang-lubang kegagalan?
Beban di Pundak Militer
Banjir yang melumpuhkan Sumatra Utara telah berulang kali terjadi, namun respons terhadap dampak lanjutan seperti krisis kesehatan selalu menjadi sorotan. Keterlibatan TNI yang masif ini adalah cerminan langsung dari ketidaksiapan sistem yang ada.
Warga terdampak kini bergantung pada inisiatif militer, sebuah gambaran suram tentang kesiapan negara dalam melindungi rakyatnya dari dampak bencana yang terus-menerus mengancam.