Tuntas di Tapanuli Utara! 103 Huntap Siap Dihuni, Relokasi Dimulai Mei
BNPB mempercepat pembangunan 103 hunian tetap (huntap) di Desa Dolok Nauli, Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Tujuh puluh unit pertama ditargetkan rampung Mei mendatang untuk relokasi pengungsi korban banjir bandang dan longsor. Pembangunan huntap ini terus berjalan, dengan 33 unit lainnya dalam proses.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggeber pembangunan 103 hunian tetap (huntap) di Desa Dolok Nauli, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, menyusul lambannya penanganan pascabencana banjir bandang dan longsor November 2025. Target 70 unit pertama harus rampung Mei 2026, mendesak relokasi gelombang perdana bagi ribuan pengungsi yang terkatung-katung.
Langkah ini menyusul janji pemulihan yang berbulan-bulan menggantung, memaksa pengungsi bertahan di penampungan sementara atau menumpang di rumah kerabat. Sementara 70 unit digadang-gadang siap ditempati bulan depan, proses pembangunan 33 unit sisa huntap masih berkutat di tahap awal, meninggalkan pertanyaan kapan seluruh korban akan mendapat tempat tinggal permanen.
Percepatan Pembangunan dan Relokasi Terdesak
Kepala BNPB Suharyanto menegaskan, 70 hunian pertama harus rampung 100 persen dan siap dihuni pada Mei 2026. Ini adalah gelombang relokasi awal yang terpaksa dilakukan setelah berbulan-bulan pengungsi hidup dalam ketidakpastian.
Pembangunan seluruh huntap ini hasil kolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi. Setiap unit direncanakan memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur yang menyatu dengan area cuci piring di bagian belakang, lantai keramik, serta taman kecil di depan rumah.
BNPB mengklaim lokasi ini aman dari potensi bencana banjir dan tanah longsor. Bangunan disebut memiliki ketahanan terhadap gempa bumi, dibangun dengan material bata merah, fondasi kuat dari batu kali, dan tulangan besi sebagai pengikat antardinding. Klaim ini penting, mengingat trauma bencana sebelumnya.
Janji Pemulihan dan Tekanan Penghentian DTH
Suharyanto menuturkan, “Sudah ada calon penghuninya. Ini yang tahap awal ada 70 (unit), insyaallah di bulan Mei 2026 sudah jadi 100 persen dan bisa segera bisa ditempati.” Ini mengindikasikan tekanan untuk memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan.
Ia juga menyatakan, “Ini adalah wujud bahwa penanganan bencana Sumatra tentu terus bergerak maju ke depan. Seluruh daerah, khususnya Tapanuli Utara, sekarang masuk tahap proses transisi menuju pemulihan, jadi tidak ada lagi masyarakat yang tidak tertangani.” Pernyataan ini berupaya menepis kritik atas lambannya penanganan.
Suharyanto menekan, “Kita harapkan pada bulan Juni mendatang seluruh warga sudah bisa pindah ke hunian tetap ini, sehingga pemberian DTH tidak perlu diperpanjang lagi.” Ini jelas menunjukkan pemerintah ingin segera menghentikan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per kepala keluarga (KK) yang saat ini diterima pengungsi.
Latar Belakang Bencana dan Kondisi Pengungsi
Huntap ini diperuntukkan bagi pengungsi Tapanuli Utara yang terdampak bencana banjir bandang dan longsor pada November 2025. Bencana tersebut tidak hanya melanda Sumatra Utara, tetapi juga Aceh dan Sumatra Barat. Saat ini, calon penghuni huntap masih menetap sementara dengan menumpang di rumah warga atau sanak saudara, menunggu realisasi janji pemerintah.