UMS Kukuhkan 913 Pengurus Ormawa: Arah Baru Gerakan Mahasiswa Universitas?

2 min read
UMS Lantik 913 Pengurus Ormawa: Menandai Arah Baru Gerakan Mahasiswa UMS

UMS melantik 913 pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat universitas masa bakti 2026. DKPTI UMS menyelenggarakan acara di Lapangan Griya Mahasiswa, Solo. Sebanyak 29 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMS terlibat. Rektor UMS menekankan peran pembina Ormawa dalam pendampingan rutin.

UMS Lantik 913 Pengurus Ormawa: Menandai Arah Baru Gerakan Mahasiswa UMS

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi melantik 913 pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat Universitas periode 2026 di Lapangan Griya Mahasiswa, Solo, Jawa Tengah, Kamis. Pelantikan masif ini mengklaim sebagai momentum regenerasi kepemimpinan mahasiswa, namun sekaligus menyisakan pertanyaan krusial tentang efektivitas dan pengawasan terhadap ratusan pengurus baru yang akan mengemban amanah selama satu tahun ke depan.

Pembengkakan Struktur Ormawa

Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS mengklaim pelantikan ini melibatkan 29 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMS, dihadiri oleh jajaran rektorat dan pembina. Proses reorganisasi yang berlangsung sejak November hingga 31 Desember 2025 ini menghasilkan angka fantastis: 913 mahasiswa ditetapkan sebagai pengurus baru. Jumlah yang membengkak ini menuntut transparansi dalam mekanisme seleksi dan penempatan, serta justifikasi atas kebutuhan struktur sebesar itu.

Direktur DKPTI, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., secara normatif menyatakan pelantikan ini sebagai “titik awal dimulainya proses kepemimpinan mahasiswa periode 2026” yang “diharapkan mampu menghadirkan program-program inovatif dan berdampak.” Namun, janji inovasi seringkali terbentur pada birokrasi internal dan koordinasi kompleks yang inheren dalam struktur besar.

Pelantikan yang dipimpin Wakil Rektor I UMS Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., dan diikuti pembacaan ikrar oleh Ketua Kafilah Hizbul Wathan UMS 2026 Rakanda Azibsyah, menyiratkan formalitas yang ketat. Namun, formalitas saja tidak menjamin substansi tanpa strategi implementasi yang jelas untuk mengelola ribuan potensi ini.

Pengakuan Kebutuhan Pendampingan dan Insentif

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., secara tersirat mengakui potensi kelemahan dalam pengawasan. Ia “menegaskan pentingnya peran strategis pembina Ormawa dalam mendampingi mahasiswa,” bahkan “mengimbau agar setiap pembina melakukan pendampingan minimal satu kali setiap bulan.” Ini mengindikasikan bahwa pendampingan rutin sebelumnya mungkin kurang optimal, sehingga rektor harus turun tangan dengan imbauan spesifik.

Lebih lanjut, Rektor Harun menambahkan, “Universitas juga perlu memberikan stimulus pendukung, salah satunya melalui apresiasi berupa beasiswa bagi pengurus Ormawa yang menunjukkan kinerja dan dedikasi yang baik.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kinerja dan dedikasi bukanlah sesuatu yang otomatis muncul, melainkan memerlukan insentif finansial—sebuah pengakuan atas perlunya dorongan eksternal untuk memacu partisipasi aktif dan hasil nyata dari ratusan pengurus ini.

Pelantikan ini, yang ditutup dengan doa oleh Pembina Lembaga Dakwah Mahasiswa dan Pengabdian Masyarakat, Yayuli, S.Ag., M.P.I., menandai dimulainya masa bakti Ormawa 2026. Namun, di balik seremonial ini, UMS menghadapi tantangan besar: mengubah jumlah pengurus yang kolosal menjadi kekuatan produktif yang terarah, bukan sekadar daftar nama tanpa dampak signifikan.

More like this