Bukan Antisosial! Menguak Kecemasan Tersembunyi di Balik Keengganan Ikut Rewang

3 min read
Bukan Antisosial: Menguak Kecemasan Tersembunyi di Balik Keengganan Rewang

Rewang sering dinilai sebagai indikator penting interaksi sosial di desa. Namun, praktik ini dapat berubah menjadi ajang penilaian massal. Banyak individu, terutama generasi muda, merasa tertekan bahkan trauma. Keengganan berpartisipasi bukan karena antisosial, melainkan kesulitan menghadapi penilaian serta stigma negatif dari masyarakat setempat.

Bukan Antisosial: Menguak Kecemasan Tersembunyi di Balik Keengganan Rewang

Budaya rewang di desa, yang selama ini diagung-agungkan sebagai simbol solidaritas komunal, kini terkuak sebagai arena penghakiman kejam dan pemicu trauma serius bagi generasi muda. Praktik saling bantu ini telah bergeser menjadi ajang penilaian massal yang secara sistematis mengasingkan mereka dari tradisi akar rumput.

Pergeseran ini bukan sekadar insiden sporadis; ia adalah cerminan dari ruang sosial yang menuntut kesempurnaan tanpa memberi ruang belajar, menghukum kesalahan kecil dengan stigma permanen, dan memaksa partisipan pulang dengan beban mental alih-alih kebanggaan atas kontribusi. Generasi tua, alih-alih membimbing, justru menciptakan tekanan psikologis.

Ruang Penghakiman, Bukan Solidaritas

Konsep rewang, yang mulia secara teori sebagai solidaritas sosial, di lapangan justru berbelok arah menjadi ajang penilaian massal. Begitu seseorang turun membantu, mereka langsung masuk “lapangan uji”, di mana kinerja mereka terus-menerus diapresiasi atau dicaci. Ini bukan lagi soal gotong royong, melainkan kompetisi tak kasat mata.

Kesalahan terkecil sekalipun tidak luput dari pengawasan dan kritik tajam. Salah memotong bawang, masakan kurang asin, gerak terlalu lambat, atau bahkan terlalu inisiatif, semua menjadi sasaran. “Maju kena, mundur kena,” menggambarkan betapa sulitnya bergerak di lingkungan rewang yang penuh pengawasan.

Celakanya, kritik pedas ini jarang disampaikan langsung. Mereka disimpan, dibahas secara berbisik-bisik, lalu disebarkan melalui jalur paling efektif di desa: obrolan ibu-ibu sore hari. Rumor yang tersebar cepat ini membentuk citra buruk yang sulit dihapus.

Cap negatif ini menempel lama pada individu yang “berbuat salah.” “Kemarin itu lho, yang motong-motong tapi nggak rapi,” atau “Emang anaknya nggak biasa bantu,” menjadi stigma yang terus menghantui. Rewang berhenti menjadi aktivitas sosial, berubah menjadi ujian mental yang kejam.

Ironisnya, generasi muda sering menjadi sasaran utama penghakiman ini. Mereka dihukum dengan narasi tentang bagaimana mereka akan menjadi istri atau mengurus rumah tangga, tanpa mempertimbangkan bahwa tidak semua orang tumbuh dengan tuntutan harus mahir di dapur. Banyak yang dibesarkan untuk sekolah, lebih akrab dengan buku daripada ulekan.

Pengakuan Pelaku Trauma

Penulis Putri Ardila, yang mengalami langsung pahitnya budaya ini, mengungkapkan, “Saya pernah datang rewang dengan niat tulus, benar-benar ingin membantu. Tapi sejak menit pertama, sudah sadar satu hal: di dapur rewang, niat baik saja tidak cukup. Harus punya skill. Harus tahan mental.” Baginya, niat baik tidak cukup menghadapi tekanan.

Ardila menambahkan bahwa pengalaman buruk tersebut memicu keengganan berpartisipasi. “Maka jangan heran kalau akhirnya banyak orang memilih tidak datang rewang. Mereka tidak datang bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak kuat secara mental. Datang niat bantu, pulang bawa rasa malu.”

Ia menegaskan, masalahnya bukan pada individualisme generasi muda. “Ini soal ruang sosial yang tidak ramah pada kesalahan, dan pada umumnya, pada anak muda. Rewang seharusnya jadi tempat mereka belajar dan mengenal budaya. Kalau salah dikit kalian hukum, terus gimana mau mereka berbaur dan paham?” sebuah pertanyaan menusuk untuk para pelaku budaya.

Desakan Perubahan Budaya

Narasi individualisme generasi muda gugur tanpa dasar. Kebanyakan dari mereka tidak anti-sosial, melainkan menjadi korban ruang sosial yang terlalu menghukum dan tidak toleran terhadap proses belajar. Generasi tua wajib belajar mengapresiasi dan membimbing, bukan menghakimi.

Fungsi rewang sebagai ajang pembelajaran dan pengenalan budaya bagi anak muda telah rusak. Jika setiap kesalahan berujung pada penghukuman dan rasa malu, partisipasi akan terus merosot. Generasi tua harus mengakui bahwa di masa muda, mereka pun barangkali sama canggungnya.

More like this