Lawson X Jujutsu Kaisen: Kerusuhan Klenik Shibuya Merajalela di Jajanan!

2 min read
Lawson x Jujutsu Kaisen: Shibuya Snack Mayhem!

Lawson berkolaborasi dengan Jujutsu Kaisen, menghadirkan paket khusus odeng dan kopi. Pembelian disertai bonus trading card atau stiker koleksi eksklusif. Kolaborasi Lawson Jujutsu Kaisen menargetkan penggemar anime, menawarkan opsi lebih ekonomis. Tersedia dua seri koleksi berbeda bagi pembeli.

Lawson x Jujutsu Kaisen: Shibuya Snack Mayhem!

Lawson secara jor-joran mengeksploitasi fanatisme anime dengan kolaborasi Jujutsu Kaisen, mendorong ribuan penggemar, termasuk di Yogyakarta, untuk berburu kartu koleksi bonus. Praktik ini secara terang-terangan mengabaikan nilai utama produk makanan dan minuman, menjadikannya sekadar alat untuk memancing “hasrat gacha” di kalangan kolektor.

Ini adalah strategi licik Lawson yang dirancang untuk mendorong penjualan besar-besaran, bukan melalui kualitas inti produknya, melainkan dengan iming-iming barang koleksi eksklusif yang memicu perilaku konsumtif berulang.

Strategi Pemasaran Berkedok Koleksi

Kolaborasi Lawson X Jujutsu Kaisen menawarkan paket odeng seharga Rp25 ribu dengan bonus kartu koleksi, dan kopi seharga Rp20 ribu dengan bonus stiker. Lawson mengklaim harga ini lebih ekonomis dibandingkan membeli produk reguler dan item koleksi secara terpisah, sebuah klaim yang menyamarkan tujuan utamanya: memicu pembelian tanpa henti.

Strategi ini bukan yang pertama bagi Lawson, setelah sukses berkolaborasi dengan One Piece. Mereka dengan sengaja menargetkan “fanbase yang lumayan fanatik,” memanfaatkan loyalitas emosional penggemar untuk keuntungan komersial.

Seorang penggemar di Yogyakarta, adik sepupu penulis artikel ini, menjadi bukti nyata loyalitas buta ini. Ia rela mengeluarkan Rp50 ribu hanya demi selembar kartu acak.

Sikapnya yang menyepelekan produk Lawson – “Penting kartunya, Mas. Jajanannya habisin aja,” – menunjukkan betapa rendahnya prioritas konsumsi makanan atau minuman itu sendiri. Fokus utama bergeser sepenuhnya pada perolehan item koleksi.

Antusiasme kolektor terbukti tak terbendung, bahkan hujan deras di Yogyakarta tak mampu menyurutkan niat mereka untuk mendatangi gerai Lawson. Ini menandakan keberhasilan Lawson menciptakan kebutuhan artifisial, mengubah produk pangan menjadi komoditas sampingan demi sebuah koleksi.

Hasrat Gacha yang Membingungkan

Seorang penggemar di Yogyakarta, adik sepupu penulis artikel ini, bahkan menegaskan prioritasnya: “Penting kartunya, Mas. Jajanannya habisin aja.” Dia rela membayar Rp50 ribu hanya demi amplop berisi kartu misterius tersebut.

Ketergantungan pada elemen acak ini terbukti saat kartu duplikat muncul. “Tanganmu bau, Mas!” keluh penggemar tersebut saat melihat kartu Yuji Itadori yang sama sudah dimilikinya.

Penulis, yang berperan sebagai pembeli, bahkan melihat peluang ini sebagai “jajan gratis” dan berniat mengulang pembelian sampai program kolaborasi selesai, menunjukkan efek siklus konsumsi yang diciptakan Lawson.

Kolaborasi semacam Lawson X Jujutsu Kaisen bukan sekadar promosi dagang. Ini adalah model bisnis cerdik yang secara sistematis mengonversi loyalitas budaya pop menjadi keuntungan penjualan, dengan risiko mendorong konsumsi berlebihan dan potensi penumpukan limbah produk yang tidak diinginkan demi ambisi koleksi semata.

More like this