Mengikis Makna Lebaran dan Puasa: Saat Kehilangan Orang Tersayang Mengubah Tradisi Jadi Hambar
Bulan puasa dan Lebaran merupakan momen kebersamaan keluarga yang dinanti. Namun, bagi sebagian individu, perayaan ini kehilangan makna dan kehangatan setelah kehilangan orang tersayang. Tradisi keluarga, seperti buka bersama dan kegiatan rutin pasca-tarawih, kini terasa berbeda. Momen spesial ini menjadi kurang lengkap.

Bulan Ramadan dan Lebaran, yang kerap dipandang sebagai puncak kebahagiaan komunal, berubah menjadi episode duka mendalam bagi sebagian orang yang ditinggal orang terkasih. Bagi Iqbal AR, momen suci ini kehilangan esensinya sejak kematian mendiang ayah dan neneknya pada tahun 2013, meninggalkan jejak kekosongan dan kejanggalan di tengah keramaian.
Tradisi keluarga yang sarat kehangatan luntur, digantikan oleh kemuraman yang tak terhindarkan. Suasana yang seharusnya penuh sukacita kini diwarnai perasaan campur aduk, menuntut penerimaan atas realitas pahit di balik façade perayaan.
Tradisi Keluarga yang Memudar
Buka bersama (bukber) keluarga besar, agenda rutin yang selalu berpusat di rumah nenek, kini terasa “aneh” dan “penuh kemuraman.” Kegembiraan yang dulu menyelimuti, terutama di tahun-tahun awal setelah tragedi 2013, telah sirna. Aroma masakan nenek yang legendaris, seperti “rawon terbaik sedunia,” tak lagi tercium, dan guyonan receh sang ayah tak lagi terdengar.
Makanan terasa hambar, kebersamaan tak lagi sehangat dulu. Momen yang dulu dinanti-nanti, kini menjadi pengingat pedih akan kehilangan, merampas keistimewaan bulan puasa bagi Iqbal.
Ritual Intim yang Terhenti
Di lingkup keluarga inti, tradisi makan bakso sekeluarga setelah tarawih, yang berjalan turun-temurun, juga mati suri. Kebiasaan mingguan ini, dari masa kecil Iqbal hingga Ramadan terakhir sang ayah, berhenti mendadak. Warung Bakso Arief langganan mereka kini hanya tinggal kenangan ritual yang tak lagi bisa dihidupkan.
Upaya menghidupkan kembali tradisi ini terasa “janggal” dan akan menjadi momen “berat, sedih, dan penuh haru.” Karena itu, tradisi tersebut dibiarkan mati, tak sanggup dibangkitkan tanpa kehadiran sang ayah.
“Saya senang bisa berjumpa dengan bulan suci, tapi juga sedih karena saya harus menjalani bulan suci ini tanpa adanya orang-orang tersayang,” ungkap Iqbal, menggambarkan konflik batin yang terus menghantui setiap Ramadan tiba. Ia mempertanyakan esensi perayaan. “Berkumpul merayakan Lebaran tapi dengan keluarga yang sudah nggak lengkap ya buat apa?”
Menurut Iqbal, momen Lebaran pun kehilangan “daya magis dan spesialnya” tanpa kehadiran ayah dan nenek. Ia tak lagi bisa menikmati masakan nenek atau melakukan sungkeman lengkap. “Rasanya kayak aneh aja gitu,” ujarnya, meski berkumpul tetap di rumah induk keluarga. “Menjalani puasa dan Lebaran tanpa orang-orang tersayang memang nggak bisa dibilang mudah,” tegasnya, mengakui perasaan ganjil dan sedih yang terselip di balik kemeriahan. “Saya cuma bisa mencoba untuk tetap kuat.”
Pengalaman Iqbal AR bukan anomali. Banyak individu lain menghadapi realitas serupa, terpaksa menjalani momen suci yang seharusnya meriah dengan beban duka pribadi. Di balik sorak-sorai Ramadan dan Lebaran, tersembunyi perjuangan sunyi mereka yang berdamai dengan kehilangan, sebuah kondisi yang “aneh” dan “berat” namun tak terhindarkan.