Kapitalisme di Balik Bukber: Bagaimana Anda Dipaksa Boros Tanpa Sadar?

3 min read
Kapitalisme di Balik Bukber: Jebakan Boros Tanpa Sadar

Bukber saat Ramadan populer untuk kumpul bersama. Namun, tren ini dikritik mengubah ibadah menjadi konsumsi berlebihan. Pilihan tempat mewah dan tekanan sosial akibat FOMO menguras dompet. Kapitalisme memanfaatkan bukber sebagai ajang komersial yang menggeser nilai ibadah utama.

Kapitalisme di Balik Bukber: Jebakan Boros Tanpa Sadar

Ahmad Dani Fauzan, seorang penulis opini, melancarkan kritik tajam terhadap fenomena buka bersama (bukber) di bulan Ramadan, menudingnya sebagai jebakan kapitalisme yang menguras dompet dan menggeser esensi ibadah menjadi konsumsi semata. Dalam artikelnya yang diterbitkan Mojok.co dan diperbarui terakhir 4 Maret 2026, Fauzan menegaskan bukber telah bermutasi dari ajang silaturahmi menjadi panggung pembuktian status sosial, digerakkan oleh tekanan psikologis dan ketakutan ketinggalan (FOMO).

Fauzan secara lugas menyatakan, bukber yang kini marak justru mengubah Ramadan – momen seharusnya menahan diri – menjadi “festival buat ngobral nafsu makan dan belanja.” Ia menyoroti keruwetan proses bukber yang menuntut tempat mewah, strategis, dan “spot bagus,” mengalihkan perhatian dari nilai spiritual ke urusan duniawi yang boros.

Bukber: Komodifikasi Ibadah

Penulis itu secara eksplisit menyebut Ramadan kini seolah menjelma menjadi ajang promo paling menggiurkan bagi industri kuliner. Restoran-restoran mendadak penuh, bahkan menawarkan “paket spesial Ramadan,” memaksa konsumen mengejar “all you can eat” dan aneka menu takjil yang seringkali berlebihan dan terbuang. Ini, menurutnya, mencederai semangat kesederhanaan Ramadan.

Secara psikologis, Fauzan menjelaskan, saat bukber di luar rumah, otak manusia terstimulasi oleh berbagai pilihan makanan yang tersaji. Setelah seharian berpuasa, keinginan untuk memesan hidangan enak dan banyak melonjak, padahal kebutuhan riil tubuh tidak sebanyak itu. Ia membandingkannya dengan buka puasa di rumah, di mana pilihan terbatas meminimalkan nafsu berlebih. Fenomena ini, kata Fauzan, adalah “serangan psikologis” yang menipu pikiran kita sendiri.

Jeratan FOMO dan Status Sosial

Lebih jauh, Fauzan mengidentifikasi FOMO sebagai “senjata paling halus yang digunakan kapitalisme” untuk menjebak masyarakat. Orang-orang rela mengeluarkan uang yang tidak dianggarkan hanya demi ikut serta, khawatir dianggap “ansos” atau tidak solid. Setelah bukber, ritual “fotbar” dan unggahan di media sosial menjadi wajib, mengubah acara itu menjadi “panggung pembuktian” hubungan sosial yang baik.

“Ini menjadikan bukber semacam panggung pembuktian, bahwa orang-orang yang ikut bukber itu punya hubungan sosial yang baik,” tegas Ahmad Dani Fauzan, mengkritisi dampak sosial bukber yang menciptakan tekanan. Ia menambahkan, “Kalau nggak dateng, nanti dibilang ansos. Kalau nolak, dibilang nggak solid.” Akibatnya, kehadiran dalam bukber didasari oleh ketakutan ketinggalan, bukan keinginan tulus, yang berujung pada pengurasan dompet demi status sosial semu.

Penulis itu juga blak-blakan menyoroti ironi bahwa “Ramadan itu seharusnya menjadi momen buat nahan diri. Ironisnya, dengan bukber, Ramadan malah jadi festival buat ngobral nafsu makan dan belanja.” Ia menggarisbawahi bagaimana ibadah puasa yang mestinya melatih kesederhanaan justru bergeser menjadi ajang pemuasan nafsu konsumsi.

Kapitalisme Dalam Ibadah

“Kapitalisme itu nggak pernah melarang kita buat beribadah. Tapi, jangan lupa, kapitalisme ingin memastikan bahwa setiap ibadah juga harus punya versi komersialnya. Bukber, misalnya. Modaro!” tukas Fauzan, menyampaikan pesan penutup yang sangat keras dan frontal.

Kritik ini menyerukan refleksi mendalam bagi para pegiat bukber. Fauzan mengajak pembaca jujur pada diri sendiri bahwa bukber saat ini “tidak pernah sesederhana ‘kumpul-kumpul’,” melainkan menciptakan tekanan sosial dan dimanfaatkan sistem kapitalisme. Artikel opini ini diterbitkan di Mojok.co, platform yang dikenal sebagai wadah bagi jamaah mojokiyah untuk menulis pandangan kritis tentang berbagai fenomena sosial dan budaya.

More like this