Titik Temu Dua Ormas Islam: Kisah Harmonis Anak NU & Muhammadiyah dari Balik Dapur Rumah
Kisah keluarga ini menyoroti harmoni dalam perbedaan. Ayah anggota Nahdlatul Ulama (NU) dan ibu dari Muhammadiyah, mereka menjalani kehidupan tanpa konflik. Perbedaan seperti jadwal Idulfitri atau praktik ibadah tidak pernah menjadi masalah. Keluarga ini menemukan solusi bersama, membuktikan organisasi masyarakat NU dan Muhammadiyah dapat hidup rukun.

Sebuah keluarga di Indonesia sukses menampar narasi permusuhan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, membuktikan perbedaan ormas sama sekali tidak menghalangi keharmonisan rumah tangga. Ayah yang dikenal sebagai warga NU garis keras, bahkan mantan ketua Banser, hidup berdampingan damai dengan ibu yang tumbuh besar dalam ekosistem Muhammadiyah tulen. Ini menjadi cermin ironi atas polarisasi yang sering dipertontonkan di tengah masyarakat.
Mereka membongkar mitos bahwa perbedaan mendasar dalam amaliyah ibadah, termasuk perbedaan hari raya Idulfitri atau praktik salat, adalah pemicu konflik. Alih-alih bertikai, keluarga ini justru menggunakan perbedaan sebagai landasan toleransi dan kesepakatan tak tertulis yang mengikat.
Detail Keluarga Lintas Ormas
Latar belakang kedua orang tua penulis artikel ini begitu ekstrem. Sang ayah adalah figur NU totalitas, pernah menjadi guru di pesantren NU, dan menjabat sebagai ketua Banser. Loyalitasnya pada NU begitu melekat, bahkan disebut-sebut bisa menjawab “NU” jika ditanya agamanya. Di sisi lain, sang ibu memiliki identitas Muhammadiyah pada darah dagingnya; ia mengenyam pendidikan Muhammadiyah dan kakeknya pernah menjadi ketua ranting Muhammadiyah.
Kisah keluarga “lintas ormas” ini kerap memicu reaksi terkejut dari publik, dengan pertanyaan klise seperti “Kok bisa?” atau “Memangnya nggak pernah berantem?”. Asumsi permusuhan seolah menjadi standar, mengabaikan fakta bahwa kebersamaan dalam perbedaan bisa terjalin damai.
Ujian paling krusial muncul saat hari raya Idulfitri jatuh pada tanggal yang berbeda, sebuah skenario yang beberapa kali terjadi dalam keluarga mereka. Ini adalah titik di mana perpecahan seringkali memanas di tingkat publik.
Namun, keluarga ini mengatasi hal tersebut dengan “kesepakatan tak tertulis” yang cerdik. Ketika Muhammadiyah Lebaran lebih dulu, malam harinya mereka sudah berkunjung ke rumah keluarga ibu, baru keesokan harinya merayakan Idulfitri di lingkungan mayoritas NU. Sang ayah bahkan meyakini malam takbiran sudah masuk 1 Syawal, menjadikan solusi ini win-win tanpa ada pihak yang merasa dirugikan.
Selain hari raya, hal-hal lain yang kerap memicu friksi di masyarakat–seperti perbedaan qunut saat salat subuh, dzikir keras setelah salat, atau jumlah rakaat tarawih–sama sekali tidak pernah menjadi bahan perdebatan. Keluarga tersebut menyepakati bahwa hal-hal demikian tidak cukup penting untuk merusak keharmonisan.
Klarifikasi Esensi Ormas
Penulis, M. Afiqul Adib, secara tegas menggarisbawahi poin fundamental yang sering luput dari perhatian publik. “NU dan Muhammadiyah itu bukan agama. Bukan pula aliran. Keduanya adalah organisasi masyarakat, atau ormas. Titik,” ujarnya lugas.
Adib mengungkapkan keheranannya terhadap sikap defensif sebagian orang. “Perbedaan tersebut bukanlah satu hal yang menggelisahkan. Pun saya kadang heran kenapa orang bisa begitu defensif soal perbedaan amaliyah antara dua organisasi yang sebetulnya sama-sama berpijak pada agama Islam,” tambahnya.
Ia menantang narasi konflik dengan fakta domestik. “Dan kalau bapak saya yang mantan ketua Banser dan ibu yang tumbuh besar di lingkungan Muhammadiyah saja bisa hidup satu atap dengan damai, rasanya tidak ada alasan kuat bagi orang lain untuk menjadikan perbedaan ini sebagai sumber permusuhan,” tegas Adib.
Ironi Polarisasi Publik
Pengalaman keluarga ini menjadi pelajaran berharga tentang toleransi yang tidak pernah diajarkan secara eksplisit, melainkan diserap dari cara hidup kedua orang tua. Ironisnya, kedewasaan berpikir seperti ini seringkali gagal dicerna oleh sebagian besar masyarakat yang masih terjebak dalam polarisasi dangkal.
Artikel yang dipublikasikan di Mojok.co ini, ditulis oleh M. Afiqul Adib dan terakhir diperbarui 6 Maret 2026, secara brutal membedah realitas pahit kesalahpahaman publik tentang perbedaan ormas Islam, menyajikan cermin yang memantulkan kembali kekonyolan narasi permusuhan.