Ketika Lebaran Berubah Jadi Panggung Pamer: Siapa yang Untung, Siapa yang Buntung?

3 min read
Lebaran Pamer: Untung Rugi Gaya Hidup di Era Digital

Lebaran modern sering berubah menjadi ritual pamer pencapaian dan kompetisi sosial tak terucapkan. Obrolan hangat berganti ajang presentasi hidup atau evaluasi status diri. Ini memicu trauma dan keengganan banyak orang untuk pulang kampung. Esensi silaturahmi memudar, menjauhkan makna Lebaran yang seharusnya sederhana, penuh kebersamaan, tanpa tekanan.

Lebaran Pamer: Untung Rugi Gaya Hidup di Era Digital

Momen Lebaran yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi justru bergeser menjadi arena persaingan sosial, memicu trauma kolektif dan keengganan banyak pihak untuk pulang kampung. Fenomena pamer pencapaian dan penghakiman berkedok pertanyaan santai ini terus mencengkeram perayaan tahunan di berbagai keluarga besar, mengikis makna kesederhanaan dan kehangatan yang sesungguhnya.

Alih-alih berbagi cerita kehidupan, setiap pertemuan Lebaran kini menjelma panggung bagi “humblebragging”—pamer keberhasilan karier, bisnis, dan harta benda yang dibalut kerendahan hati palsu. Praktik ini, yang makin menjengkelkan dari waktu ke waktu, secara nyata meruntuhkan esensi Lebaran sebagai waktu untuk berkumpul tanpa perlu pembuktian diri.

Krisis Makna Lebaran

Pergeseran ini bukan sekadar obrolan biasa. Ini adalah “lomba siapa yang hidupnya terlihat paling berhasil,” kata pengamat sosial. Kalimat seperti, “Ah biasa saja kok kerjaannya, cuma kebetulan dipercaya jadi kepala cabang,” atau, “Usaha kecil-kecilan saja sih. Alhamdulillah sekarang sudah buka cabang di beberapa kota,” adalah contoh nyata pola “humblebragging” yang merajalela.

Niat di baliknya jelas: menaikkan status diri di hadapan keluarga besar, seringkali dengan mengorbankan perasaan mereka yang hidupnya “tak selevel.” Tujuan percakapan bukan lagi berbagi pengalaman hidup, melainkan alat validasi ego yang menghancurkan.

Selain pamer pencapaian, Lebaran juga dirusak oleh “penghakiman sosial berkedok pertanyaan.” Pertanyaan klise seperti, “berapa gajimu,” “kapan nikah,” atau “kapan nambah anak,” terus dilontarkan. Meski terdengar santai, pertanyaan-pertanyaan ini berfungsi sebagai evaluasi kehidupan oleh pihak-pihak yang seringkali tidak memiliki kontribusi berarti.

Trauma kolektif ini nyata. Banyak yang mengaku jenuh dan lelah, namun siklus ini terulang setiap tahun. Ironisnya, obrolan sederhana tentang masa kecil, kenangan kampung, atau makanan favorit—yang seharusnya menjadi alasan utama pulang—justru terpinggirkan.

Validasi sosial menggeser kehangatan otentik. Keluarga berkumpul, tetapi jarak justru semakin kentara. Makna sejati Lebaran dan silaturahmi pun memudar nyata.

Panggung Pamer dan Penghakiman

Di tengah hingar-bingar kompetisi ini, pihak yang memilih diam justru seringkali menjadi yang paling waras. Mereka memahami keabsurdan percakapan dan bahwa tidak semua pencapaian butuh diumumkan atau dibandingkan.

Bagi mereka, Lebaran adalah tentang kehadiran, bukan pembuktian—sebuah refleksi tajam atas fenomena di mana esensi kemanusiaan biasa terenggut oleh panggung identitas sosial yang dipaksakan.

“Semua orang sebenarnya tahu obrolan pamer ini tidak nyaman, banyak yang jenuh, banyak yang lelah,” demikian pengamatan kritis yang muncul dari banyak pihak, “tetapi siklusnya terus berulang. Cerita itu-itu lagi, tawa itu-itu lagi, wajah-wajah pasrah itu-itu lagi.” Ini menunjukkan kebuntuan sosial yang sulit diurai dan mengikis silaturahmi.

Siklus Ironi yang Berulang

Lebaran modern secara fundamental kehilangan kesederhanaannya. Momen yang seharusnya mengembalikan manusia pada fitrahnya kini berubah menjadi ajang unjuk gigi identitas sosial.

Fenomena ini menegaskan ironi terbesar silaturahmi: ketika niatnya mendekatkan, yang tercipta justru jurang kesenjangan yang makin dalam. Waktu terus berjalan, namun persoalan inti ini terus menghantui.

More like this