Prabowo Buka Asrama Gratis: Ubah Hidup Anak Miskin, Fasilitas Lengkap Jadi Sorotan
Raisa, siswa kelas 5 SRD 2 Surakarta, bersekolah di Sekolah Rakyat setelah orang tuanya bercerai. Program ini menyediakan fasilitas pendidikan lengkap: seragam, asrama, makanan, dan kelas digital. Ini membantu Raisa mengejar cita-cita menjadi Polwan. Ia berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas program Sekolah Rakyat yang mendukungnya.

Seorang siswi kelas 5 Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 2 Surakarta, Raisa Alena Wijayanto, secara terbuka memuji Presiden RI Prabowo Subianto atas program Sekolah Rakyat. Pujian ini muncul dari realitas pahit perceraian orang tua dan kemiskinan yang membuatnya tak mampu lagi membiayai pendidikan, mendorongnya bergantung penuh pada fasilitas negara.
Raisa dan saudara kembarnya kini tinggal bersama budenya di Karanganyar, Jawa Tengah, setelah orang tuanya tak sanggup menanggung biaya sekolah. Kondisi ini menempatkan Sekolah Rakyat sebagai satu-satunya jalan bagi Raisa untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita menjadi Polisi Wanita, menggantungkan masa depannya pada keberlanjutan program tersebut.
Ketergantungan Total pada Program Negara
Ketergantungan Raisa pada Sekolah Rakyat bukan tanpa alasan. Sejak diterima di SRD 2 Surakarta, ia dan saudara kembarnya menikmati fasilitas lengkap yang jauh melampaui kemampuan finansial keluarga. Ini termasuk seragam, tas, sepatu, serta akomodasi asrama dengan tempat tidur, selimut, tumbler, hingga peralatan mandi.
Ruang kelas yang bersih dilengkapi papan interaktif digital, meja, dan kursi nyaman, diklaim Raisa sebagai lingkungan belajar ideal. Guru-guru di sana juga disebut membantu memupuk cita-citanya menjadi Polwan, menciptakan narasi keberhasilan program dalam membentuk masa depan anak-anak.
Program ini juga menjamin asupan nutrisi siswa. Raisa menyebut ia mendapat tiga kali makan dan dua kali kudapan setiap hari, sebuah jaminan kebutuhan dasar yang luput dari jangkauan orang tuanya. Kondisi ini menyoroti celah sosial yang coba ditutup oleh inisiatif pemerintah.
Namun, keberadaan program ini sekaligus mengungkap kegagalan sistemik dalam menjamin hak pendidikan dan kesejahteraan anak-anak korban perceraian atau kemiskinan ekstrem. Sekolah Rakyat menjadi “jalan terakhir” bagi banyak anak, bukan sekadar pilihan alternatif, mengindikasikan rapuhnya jaring pengaman sosial yang ada.
Kisah Raisa menonjolkan bagaimana program pemerintah dapat menjadi penyelamat bagi individu yang terpinggirkan, namun juga memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan, cakupan, dan dampaknya terhadap sistem pendidikan nasional secara keseluruhan. Apakah ini solusi permanen atau hanya tambal sulang atas masalah yang lebih besar?
Suara Pahit dari Korban Sistem
“Orang tua saya sudah cerai. Sudah tidak bisa membiayai saya,” ujar Raisa, Minggu (12/4), menggambarkan realitas pahit yang memaksanya mencari bantuan di luar keluarga inti. Pernyataan ini menegaskan beban yang dipikul anak-anak akibat krisis rumah tangga.
Ia menambahkan, “Sehari makan tiga kali, snack dua kali. Enak (makanannya). Semoga aku bisa meraih cita-citaku: Polwan.” Kutipan ini menyoroti bagaimana kebutuhan dasar—makanan—menjadi penentu utama harapan dan impian seorang anak, yang kini dipenuhi oleh program pemerintah.
Raisa tak ragu melontarkan pujian langsung kepada Kepala Negara. “Terima kasih Pak Prabowo telah membuat Sekolah Rakyat ini. Dan saya insya Allah bisa meraih cita-cita saya,” katanya, menempatkan Presiden sebagai arsitek langsung dari “kesempatan kedua” dalam hidupnya.
Retorika Harapan di Balik Realita
Puncak dari ekspresi terima kasih Raisa adalah surat yang ditujukan kepada Presiden Prabowo. Dalam surat tersebut, ia menulis, “Sekolah Rakyat bukan sekadar gedung tempat belajar, melainkan sebuah gerbang menuju cahaya. Kami tidak hanya belajar berhitung, menulis, tapi kami sedang merajut kembali harapan-harapan yang sempat terkoyak oleh kemiskinan.”
Surat itu melanjutkan retorika puitis, “Kami percaya bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah nasib. Di mana kami tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan menjadi generasi mandiri yang mampu membawa perubahan nyata dan mengangkat derajat kehidupan kami dari lembah kekurangan.” Klaim-klaim ini, meskipun disampaikan oleh seorang anak, mencerminkan narasi besar di balik program Sekolah Rakyat—narasi tentang kesetaraan, harapan, dan perubahan nasib yang terangkum dalam janji-janji politik.