Terungkap: SMAN 1 Jepon Dulu Berbahaya, Revitalisasi Kini Jamin Kenyamanan Belajar Siswa

2 min read
Terungkap: Transformasi SMAN 1 Jepon, Dulu Berbahaya Kini Aman & Nyaman Belajar

SMAN 1 Jepon, Blora, Jawa Tengah, kini nyaman untuk belajar setelah direvitalisasi. Dana Rp1,6 miliar dari Bantuan Kemasyarakatan Presiden digunakan untuk memperbaiki tiga kelas dan satu gedung indoor. Sebelumnya, fasilitas sekolah seperti ubin retak dan atap bolong membahayakan siswa. Program revitalisasi ini meningkatkan keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar.

Terungkap: Transformasi SMAN 1 Jepon, Dulu Berbahaya Kini Aman & Nyaman Belajar

SMA Negeri 1 Jepon, Blora, Jawa Tengah, kini memiliki wajah baru setelah revitalisasi senilai Rp1,6 miliar, mengakhiri periode panjang kondisi sekolah yang membahayakan siswa. Proyek ini, yang mendekati rampung pada April 2026, menanggapi kegagalan pemeliharaan yang membuat ubin pecah, atap bolong, dan fasilitas vital lainnya ambruk.

Pembangunan selama 120 hari ini, didanai Bantuan Kemasyarakatan Presiden, berfokus pada tiga kelas dan satu gedung indoor yang sebelumnya memaksa ratusan siswa belajar di tengah ancaman reruntuhan. Intervensi ini datang setelah infrastruktur sekolah mencapai titik krisis.

Ancaman di Balik Dinding Sekolah

Rekahan ubin yang tajam dan langit-langit bolong-bolong menjadi pemandangan rutin di SMAN 1 Jepon, menimbulkan kekhawatiran besar akan potensi robohnya atap. Pintu kelas reyot, jendela tanpa kaca, dan tulang-tulangnya yang lapuk memperparah kondisi belajar siswa.

Toilet sekolah pun tak luput dari kerusakan memprihatinkan. Urinoir menghitam dan wastafel nyaris lepas dari dinding, menciptakan lingkungan yang jauh dari kata layak, bahkan membuat siswa bergidik setiap kali harus menggunakannya.

Kondisi akut ini memicu program revitalisasi. Dana Rp1,6 miliar digelontorkan, bersumber dari Bantuan Kemasyarakatan Presiden, bukan dari anggaran rutin daerah yang seharusnya menjamin pemeliharaan fasilitas pendidikan.

Proyek ini dilaksanakan secara swakelola, sebuah metode yang kerap memunculkan pertanyaan tentang akuntabilitas dan efisiensi, meskipun diklaim berhasil mengubah tiga kelas dan satu gedung indoor menjadi nyaman.

Papan proyek menunjukkan pengerjaan dimulai 29 Desember 2025 dan berakhir 28 April 2026, menggarisbawahi jeda waktu panjang antara kerusakan parah dan penanganan konkret.

Pengakuan Kepala Sekolah

Kepala SMA Negeri 1 Jepon, Dody Luhansa, mengakui kerusakan parah sebelum intervensi. “Sebelum kegiatan revitalisasi ini, memang untuk tiga gedung yang ada di sini ada cukup banyak kerusakan,” ujarnya.

Dody juga menyoroti peningkatan kualitas pasca-revitalisasi. “Ini gedung juga sedikit ditinggikan, sehingga jauh lebih nyaman bagi anak-anak untuk pembelajaran,” katanya, menggambarkan perubahan drastis dari kondisi membahayakan.

Ia menambahkan, “Jadi, kami sangat terbantu dengan bantuan yang kami dapatkan ini,” sebuah pengakuan atas ketergantungan pada bantuan eksternal setelah fasilitas vital sekolah nyaris ambruk.

Pertanyaan di Balik Bantuan Presiden

Revitalisasi ini mengakhiri periode panjang di mana infrastruktur dasar pendidikan di SMAN 1 Jepon terabaikan, memaksa siswa berhadapan dengan risiko fisik demi menuntut ilmu. Pertanyaan besar tetap mengemuka: mengapa fasilitas pendidikan harus menunggu hingga di ambang kehancuran baru mendapat perhatian serius?

More like this