Surat Siswi Alor ke Prabowo: Rintihan Perbaikan Sekolah NTT Dijawab, Ini Hasilnya
Surat Ferona Keren Balol, siswi SMA Negeri 3 Kalabahi, Alor, menyoroti sulitnya fasilitas pendidikan. Sekolahnya kini menerima dana program Revitalisasi Sekolah berkat bantuan Presiden Prabowo Subianto. Ruang kelas kokoh, dilengkapi fasilitas belajar memadai, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa di Alor.

KALABAHI, ALOR – Surat seorang siswi SMA di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengungkapkan rasa syukur atas revitalisasi sekolahnya, secara telanjang menyingkap kegagalan negara dalam menyediakan fasilitas pendidikan dasar yang layak selama hampir satu dekade. Gedung sekolah yang didirikan pada 2016 itu, sebelum direvitalisasi, berada dalam kondisi bobrok, mengancam keselamatan siswa, dan terkesan terabaikan.
Ferona Keren Balol, siswi SMA Negeri 3 Kalabahi, menulis surat tulus kepada Presiden RI Prabowo Subianto, berterima kasih atas program Revitalisasi Sekolah yang mengubah tempatnya menimba ilmu dari bangunan rapuh menjadi ruang belajar yang aman. Rasa syukur ini justru menyoroti betapa parahnya kondisi pendidikan di daerah terpencil yang luput dari perhatian.
Kondisi Memprihatinkan yang Terabaikan
Sebelum program revitalisasi, SMA Negeri 3 Kalabahi bukan sekadar sulit dijangkau, tetapi juga terasing dalam penderitaan. Sekolah yang baru berdiri delapan tahun lalu ini memaksa siswanya belajar di balik tembok rapuh, diliputi kecemasan ruang kelas akan roboh kapan saja. Ini bukan hanya ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata terhadap jiwa anak-anak.
Dinding tripleks tak mampu menahan sengatan terik matahari Alor yang membakar. Atap seng tanpa langit-langit mengubah ruang kelas menjadi oven, panas menjalar tak tertahankan. Kondisi ini mencerminkan kelalaian serius pemerintah daerah dan pusat dalam menjamin lingkungan belajar yang manusiawi.
Kini, setelah revitalisasi, ruang kelas SMAN 3 Kalabahi kokoh. Pintu, dinding, langit-langit, dan atap tampak kuat, menepis panas. Fasilitas belajar seperti kursi, meja, dan papan tulis memadai. Perubahan drastis ini datang setelah bertahun-tahun sekolah “menyeka keringat dan air mata.”
“Ada rasa bangga dan juga terharu dalam lubuk hati yang paling dalam. Karena kurang lebih 9 tahun perjalanan, sekolahku masih menyeka keringat dan air mata,” tulis Ferona dalam suratnya, menggambarkan penderitaan panjang yang harus ia dan teman-temannya lalui.
Rintihan yang Baru Terdengar
Ferona melanjutkan, “Tapi, terima kasih karena rintihan dan keluhan kami akhirnya didengar. Ada harapan baru bagi sekolah kami bisa mendapatkan bantuan dana revitalisasi untuk tempat belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan di kelas baru.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kondisi buruk itu adalah “keluhan” yang membutuhkan “bantuan,” bukan hak dasar yang semestinya terpenuhi sejak awal.
Dalam penutup suratnya yang personal, Ferona menyampaikan, “Sehat selalu ya, Bapak. Negeri Ini masih sangat membutuhkan Bapak. Orang baik, berhati mulia. Rindu kami Bapak dapat menginjakkan kaki di sekolah yang sudah Bapak dirikan ini. Peluk hangat dari kami.”
Kritik Terhadap Sistem Pendidikan
Surat Ferona Keren Balol, meski penuh rasa syukur, secara tidak langsung menelanjangi kegagalan sistem pendidikan nasional dalam menjamin akses fasilitas layak di daerah terpencil. Kondisi SMAN 3 Kalabahi bukan anomali, tetapi cerminan masalah struktural yang mendalam.
Ketergantungan pada program revitalisasi khusus dan ucapan terima kasih kepada pejabat tinggi seharusnya menjadi alarm keras bagi negara. Ini menyoroti lambatnya intervensi pemerintah dalam memenuhi hak dasar pendidikan warganya, yang seharusnya tidak perlu menunggu delapan tahun penderitaan dan rintihan siswa untuk didengar.