Al Waqiah: Oase Ketenangan Jiwa Saat Badai Keuangan Menerjang
Salah satu surah dalam Al-Qur’an, Al Waqiah, terdiri dari 96 ayat. Surah ini membahas peristiwa hari kiamat dan pembagian manusia menjadi tiga golongan. Rutin membaca Al Waqiah diketahui dapat memengaruhi ketenangan hati serta kelancaran rezeki bagi pembacanya.

Seorang penulis, Dyan Arfiana Ayu Puspita, secara kontroversial mengklaim praktik rutin membaca Surah Al Waqiah adalah kunci meraih ketenangan hati dan melancarkan rezeki. Pernyataan bombastis ini, dipublikasikan melalui platform Mojok.co, menarik perhatian publik karena menyajikan pengalaman spiritual personal sebagai formula solusi masalah finansial, tanpa dasar bukti empiris yang kuat.
Puspita bersikeras menemukan korelasi langsung antara amalan keagamaan dengan peningkatan keberuntungan duniawi. Ia mengklaim fenomena ini menantang nalar kritis, seolah praktik ibadah mampu secara langsung memengaruhi kondisi material seseorang secara ajaib.
MOTIF DUNIAWI DAN PENGALAMAN SUBJEKTIF
Awalnya, Puspita mengakui motivasinya membaca surah tersebut sangat duniawi. Ia terpikat oleh klaim populer yang menyebut rutin membaca Al Waqiah “bisa melancarkan rezeki.” Ini menyoroti bagaimana motif materialistis seringkali mendasari praktik spiritual.
Puspita menggambarkan sensasi membaca Al Waqiah sebagai “enak” dan “ringan dilafalkan,” dengan ayat-ayat yang “cenderung pendek-pendek” serta “bernada.” Hal ini, baginya, menciptakan “candu” tersendiri, terlepas dari makna teologis mendalam surah tersebut.
Ia menegaskan, setelah rutin membaca, hatinya menjadi “jauhhhhh lebih tenang.” Perasaan ini menghilangkan “grusak-grusuk soal duniawi,” bahkan saat menghadapi kebutuhan mendadak atau pemasukan yang “seret.”
Ironisnya, Puspita menyatakan, “Ketika diri ini tidak grusak-grusuk, rezeki malah datang dari arah yang tidak saya sangka.” Rezeki ini diwujudkan dalam bentuk “pekerjaan kecil, bantuan tak terduga, atau berbagai kemudahan lainnya.” Klaim ini, lagi-lagi, tetap bersifat anekdotal dan sulit diverifikasi secara objektif.
Ia meyakini, “Seolah, ketika hati tenang, pintu-pintu itu terbuka sendiri.” Sebuah keyakinan yang mengabaikan faktor-faktor ekonomi, sosial, atau kesempatan objektif dalam perolehan rezeki.
INSIDEN KEHILANGAN UANG: BUKTI ATAU KEBETULAN?
Puspita mengemukakan insiden kehilangan uang Rp300 ribu sebagai bukti nyatanya. Ia menceritakan, jika kejadian itu terjadi sebelum ia “akrab dengan surah Al Waqiah,” ia pasti akan “mewek,” “bad mood seharian,” dan meminta ganti rugi pada suami.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ia merasa “legowo sekali,” tidak “rungsang,” dan tetap tenang. Hati kecilnya meyakini, “kalau hilang, berarti itu bukan rejeki saya.” Ia bahkan menyebut uang yang hilang itu “hanya duit dan duniawi,” sehingga “kenapa harus resah? Nggak dibawa mati ini.”
Beberapa hari kemudian, uang tersebut ditemukan oleh temannya. Puspita menginterpretasikan kejadian ini sebagai penegasan dari Al Waqiah: “Lihat, kan? Tenang saja. Rezeki nggak akan ke mana. Apa yang sudah digariskan untukmu, maka akan selalu kembali padamu, dengan berbagai caranya!”
KETERGANTUNGAN PADA TAKDIR ILahi
Surah Al Waqiah sendiri secara garis besar berkisah tentang hari kiamat, peristiwa besar yang pasti terjadi, dan pembagian manusia menjadi tiga golongan (As-Sabiqun, Ashabul Yamin, dan Ashabul Syimal) beserta balasannya di akhirat. Surah ini juga menekankan bukti kekuasaan Tuhan melalui penciptaan diri, tanaman, air, dan api, serta kepastian kematian.
Puspita pada akhirnya mengakui bahwa ketenangan hati dan kelapangan rezeki bukan semata karena Al Waqiah. Ia menegaskan, “Sejatinya, semua itu balik lagi ke kersane Gusti Allah. Rahmat-Nya. Kuasa-Nya. Kehendak-Nya.” Ia menyimpulkan Al Waqiah mungkin hanyalah perantara yang membuatnya lebih sering mengingat Tuhan, di mana “rahmat itu turun.” Ini adalah upaya meredakan klaim langsungnya, namun tidak sepenuhnya menafikan narasi personalnya yang kuat akan hubungan sebab-akibat antara amalan dan kemakmuran.