Bukan Melulu Pamer: 4 Alasan Tak Terduga Malas Ikut Bukber

2 min read
4 Alasan Mengejutkan Malas Ikut Bukber, Bukan Sekadar Pamer!

Undangan bukber Ramadan seringkali diiringi beberapa kendala. Faktor utama meliputi perjalanan jauh dan macet, kesulitan parkir, serta menu makanan mahal yang tidak sesuai selera. Persoalan ketidaktepatan waktu dan diskusi panjang penentuan lokasi acara juga mempengaruhi esensi silaturahmi. Ini menjadi pertimbangan umum.

4 Alasan Mengejutkan Malas Ikut Bukber, Bukan Sekadar Pamer!

Fenomena buka bersama (bukber) di bulan Ramadan yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi justru membebani sebagian masyarakat. Undangan bukber, alih-alih disambut antusias, kini seringkali memicu rasa malas akibat rentetan masalah klasik: perjalanan macet, biaya mahal, budaya “ngaret,” dan drama penentuan lokasi di grup WhatsApp yang menguras energi.

Kecenderungan ini dilaporkan oleh Intan Permata Putri, seorang penulis yang mengamati pergeseran esensi bukber dari kebersamaan tulus menjadi kewajiban sosial yang merepotkan. Pengalaman ini bukan hanya miliknya, melainkan cerminan keresahan umum di tengah hiruk-pikuk Ramadan modern.

Jalanan Tersendat, Dompet Tersiksa

Perjalanan menuju lokasi bukber menjelang magrib menjadi momok utama. Berangkat sore hari saat jam pulang kantor berarti harus menerobos kemacetan parah dan berjuang mencari parkir, yang kerap kali memicu stres bahkan sebelum acara dimulai. Banyak peserta merasa lokasi yang dipilih, meski diklaim “strategis,” tetap terasa jauh dan tidak praktis.

Biaya menjadi beban lain. Banyak tempat bukber dipilih berdasarkan tren atau “estetika” media sosial, menjual paket Ramadan ratusan ribu rupiah per orang. Ironisnya, menu yang disajikan seringkali tidak sesuai selera atau porsinya terlalu besar sehingga banyak yang terbuang. Momen mahal ini, seringkali lebih mengutamakan suasana dan foto, bukan rasa makanan atau kenyamanan bersantap.

Ngaret Tanpa Henti, Diskusi Tanpa Ujung

Budaya “ngaret” atau tidak tepat waktu telah menjadi kebiasaan tak terpisahkan dari bukber. Meskipun waktu berbuka puasa sudah pasti, banyak peserta datang terlambat—bahkan setelah semua orang selesai makan. Kondisi ini membuat mereka yang datang tepat waktu harus menunggu lama, mengikis kebersamaan dan keserempakan dalam berbuka.

Sebelum acara berlangsung, drama penentuan tanggal dan lokasi di grup WhatsApp bisa berlarut-larut selama berhari-hari. Berbagai preferensi waktu dan biaya saling bertabrakan, berujung pada diskusi yang berulang tanpa keputusan final yang memuaskan semua pihak. Energi mental banyak yang terkuras bahkan sebelum bukber itu sendiri terlaksana.

Intan Permata Putri menegaskan, “Ramadan seharusnya tentang kesederhanaan, ketenangan, dan kebersamaan yang apa adanya. Bukan tentang tempat paling mewah, bukan tentang siapa paling berhasil, dan bukan tentang siapa paling sibuk.” Ia menambahkan, “Yang membuat momen itu berkesan bukan lokasi atau harga makanannya, tapi rasa tulus untuk bertemu dan menjaga silaturahmi.” Jika prosesnya terlalu ribet, mahal, penuh drama kecil, dan terasa seperti kewajiban sosial, ia memilih buka puasa dengan tenang bersama keluarga atau orang terdekat.

Situasi ini menyoroti bagaimana tradisi baik seperti bukber bisa bergeser dari tujuan awalnya. Dari sekadar ajang mempererat tali silaturahmi, bukber kini seringkali terjebak dalam jebakan gengsi, kepraktisan yang hilang, dan ekspektasi sosial yang memberatkan.

More like this