Bisnis Buah MBG Meroket Tajam: Pesanan Kios Membludak, Peluang Kerja Terbuka Lebar!
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif pada ekonomi lokal. Kios buah Endang Sri Lestari di Masaran, Sragen, mengalami peningkatan pesanan signifikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Ini mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha seperti Endang dan Surati di Solo.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diklaim mulai memicu lonjakan omzet bagi sejumlah pedagang buah di Jawa Tengah. Endang Sri Lestari (33), pemilik Kios Lestari Snack di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, dan Surati (48), penjual nanas di Pasar Gede, Kota Solo, adalah dua di antara mereka yang kini kebanjiran pesanan. Klaim ini datang dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, menyoroti dampak ekonomi program yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto tersebut.
Peningkatan pesanan buah ini terjadi setiap minggu, dipasok ke sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di wilayah Sragen dan Solo. Fenomena ini, menurut Bakom RI, menunjukkan program MBG mulai menciptakan permintaan signifikan di tingkat lokal, meski terbatas pada sektor dan pelaku usaha tertentu.
Lonjakan Pesanan dan Rekrutmen Tenaga Kerja
Kios Lestari Snack milik Endang, yang telah beroperasi sejak 2020, kini rutin menerima order dari tiga SPPG di Sragen. Setiap minggu, buah-buahan seperti klengkeng, pir, naga, apel, anggur, dan semangka dipesan dalam partai besar. Contohnya, jeruk dipesan hingga 150 kilogram, apel 7 sampai 10 dus (rata-rata 100 buah per dus), nanas 250 kilogram, dan klengkeng minimal 12 krat (10 kg per krat).
Volume pesanan yang masif ini memaksa Endang merekrut tenaga kerja baru. Dua karyawan tetap dan empat hingga lima pekerja lepas kini membantu operasional kiosnya. Kondisi serupa dialami Surati di Solo, yang usahanya telah berjalan lebih dari 30 tahun. Ia kini menerima pesanan nanas antara 2.000 hingga 2.500 buah per sekali order, seluruhnya untuk kebutuhan dapur MBG.
Peningkatan omzet dan penyerapan tenaga kerja ini terjadi secara langsung akibat permintaan yang diciptakan oleh program MBG. Ini menunjukkan ketergantungan langsung sejumlah usaha kecil pada inisiatif pemerintah tersebut, bukan semata-mata pertumbuhan pasar organik.
Suara Pedagang: Antara Berkah dan Harapan Keterusan
Endang Sri Lestari secara terang-terangan mengakui dampak positif program ini terhadap ekonominya. “Dampaknya bagus, ekonomi lumayan naik. Kita dapat pesanannya lumayan,” ujar Endang. Ia menambahkan, “Setelah dapat (orderan) MBG, saya bisa punya dua karyawan. Kadang ada pojokan (bekerja lepas) juga, empat sampai lima orang.”
Harapan agar program MBG terus berlanjut menjadi sentimen dominan dari para pedagang yang diuntungkan. Endang secara spesifik menyampaikan terima kasih kepada figur di balik program tersebut. “Terima kasih Pak Prabowo, semenjak ada MBG, saya ikut terjun sebagai suplier buah, semoga programnya terus berlanjut,” katanya. Surati pun menyuarakan harapan serupa agar program ini tidak berhenti.
Latar belakang program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu janji kampanye Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang bertujuan menyediakan asupan gizi untuk anak-anak sekolah dan balita. Manfaat ekonomi yang diklaim Bakom RI ini menunjukkan bagaimana program tersebut menciptakan rantai pasok dan permintaan baru, meski implikasinya terhadap keberlanjutan ekonomi jangka panjang masih memerlukan analisis lebih mendalam, di luar ketergantungan pada subsidi pemerintah.