Dolar AS Kian Perkasa, Rupiah Tertekan: Membedah Ancaman Global
loading…Ciplis Gema Qori’ah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Jember. Foto/Dok. SindoNews Ciplis Gema Qori’ahDosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas JemberARUS repatriasi modal meluncur kembali ke asalnya. Gejolak pasar keuangan global mengharuskan pemain keuangan untuk melindungi asetnya (risk-off) yang dibenamkan di emerging market. Artinya greenback – sebutan populer untuk dolar AS kembali menjadi magnet likuiditas keuangan global.Sementara, tekanan rupiah kembali hadir dalam lanskap berbeda. Data JISDOR BI per 13 Mei 2026 menginfokan rupiah menyentuh 17.535per dolar AS. Yang disebabkan lonjakan harga minyak karena konflik di Timur Tengah dan melentingnya DXY. Ini mengindikasikan bagaimana tekanan greenback masih menimbulkan tekanan kuat. Hal yang perlu diwaspadai ada kemungkinan tergerusnya fondasi makroekonomi domestik.Volatilitas rupiah kerap membuncahkan ingatan panjang tentang krisis. Bukan lagi sekadar angka di layar perdagangan, melainkan sebagi sinyal kuat atas menurunnya kepercayaan publik, pasar dan dunia usaha. Krisis 1998 mengajarkan bahwa pelemahan nilai tukar bisa berubah menjadi badai sistemik. Hal ini ditandai dengan rapuhnya pondasi perbankan, menggunungnya utang valas dan runtuhnya kredibilitas. Juga krisis 2008 yang disebabkan oleh guncangan di Wall Street, tetapi ombaknya tetap sampai ke emerging market melalui arus modal, likuiditas dolar dan sentimen risiko. Sedikit berbeda dengan krisis 2020, tatkala mobilitas manusia terhenti karena pandemi, mobilitas modal justru bergerak sangat cepat (frozen mobility-restless capital).Namun, situasi saat ini tidak identik dengan krisis sebelumnya. Ekonomi Indonesia triwulan I-2026 masih tumbuh 5,61% secara tahunan, inflasi April 2026 berada di 2,42%, dan cadangan devisa akhir April 2026 tercatat USD146,2 miliar atau setara 5,8 bulan impor. Rupiah sedang tertekan, tetapi fondasi makro belum patah.

loading…
Ciplis Gema Qori’ah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Jember. Foto/Dok. SindoNews
Ciplis Gema Qori’ah
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Jember
ARUS repatriasi modal meluncur kembali ke asalnya. Gejolak pasar keuangan global mengharuskan pemain keuangan untuk melindungi asetnya (risk-off) yang dibenamkan di emerging market. Artinya greenback – sebutan populer untuk dolar AS kembali menjadi magnet likuiditas keuangan global.
Sementara, tekanan rupiah kembali hadir dalam lanskap berbeda. Data JISDOR BI per 13 Mei 2026 menginfokan rupiah menyentuh 17.535per dolar AS. Yang disebabkan lonjakan harga minyak karena konflik di Timur Tengah dan melentingnya DXY. Ini mengindikasikan bagaimana tekanan greenback masih menimbulkan tekanan kuat. Hal yang perlu diwaspadai ada kemungkinan tergerusnya fondasi makroekonomi domestik.
Volatilitas rupiah kerap membuncahkan ingatan panjang tentang krisis. Bukan lagi sekadar angka di layar perdagangan, melainkan sebagi sinyal kuat atas menurunnya kepercayaan publik, pasar dan dunia usaha. Krisis 1998 mengajarkan bahwa pelemahan nilai tukar bisa berubah menjadi badai sistemik. Hal ini ditandai dengan rapuhnya pondasi perbankan, menggunungnya utang valas dan runtuhnya kredibilitas.
Juga krisis 2008 yang disebabkan oleh guncangan di Wall Street, tetapi ombaknya tetap sampai ke emerging market melalui arus modal, likuiditas dolar dan sentimen risiko. Sedikit berbeda dengan krisis 2020, tatkala mobilitas manusia terhenti karena pandemi, mobilitas modal justru bergerak sangat cepat (frozen mobility-restless capital).
Namun, situasi saat ini tidak identik dengan krisis sebelumnya. Ekonomi Indonesia triwulan I-2026 masih tumbuh 5,61% secara tahunan, inflasi April 2026 berada di 2,42%, dan cadangan devisa akhir April 2026 tercatat USD146,2 miliar atau setara 5,8 bulan impor. Rupiah sedang tertekan, tetapi fondasi makro belum patah.