Kunci Solusi Permanen Banjir Demak Terungkap: Pemprov Jateng Gandeng Lintas Pihak
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) tangani dampak banjir Demak. Penanganan meliputi fase darurat, pemulihan, dan pencegahan jangka panjang. Kolaborasi lintas pihak, termasuk pemerintah pusat dan kabupaten, penting untuk percepatan perbaikan rumah warga. Wakil Gubernur Jawa Tengah meninjau lokasi. Fokus utama adalah penanganan banjir komprehensif agar tidak terulang.
Banjir parah kembali melanda Kabupaten Demak pada Jumat (3/4/2026) setelah tanggul Sungai Tuntang jebol di tiga titik, merendam sembilan desa dan memaksa ribuan warga mengungsi. Empat hari pasca-bencana, Selasa (7/4/2026), Pemerintah Provinsi Jawa Tengah baru bergerak cepat meninjau lokasi, menjanjikan penanganan kolaboratif untuk pemulihan dan pencegahan banjir berulang yang telah menjadi momok tahunan. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak untuk mempercepat perbaikan rumah warga dan menuntaskan persoalan banjir yang kerap berulang. Namun, janji ini datang setelah kerusakan masif terjadi, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pencegahan jangka panjang.
Skala Kerusakan dan Respon Awal
Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen meninjau langsung Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, salah satu titik terparah yang bahkan sempat kembali terendam akibat tanggul belum tertutup sempurna. Ia mengakui penanganan tidak bisa dilakukan sendiri, menuntut kolaborasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Kerusakan akibat banjir ini meluas, merendam permukiman di sembilan desa yang tersebar di empat kecamatan: Guntur, Wonosalam, Karangtengah, dan Kebonagung. Sebanyak 5.148 jiwa terdampak, dengan 2.867 jiwa sempat mengungsi, menyisakan 12 jiwa di Madin Sindon. Pemprov Jateng mengklaim telah menggandeng berbagai pihak untuk pemulihan. Sumber pendanaan berasal dari pemerintah provinsi, pusat, kabupaten, Baznas, hingga PMI, sementara tenaga perbaikan akan melibatkan relawan dari organisasi kemasyarakatan seperti Banser Ansor. Bantuan awal mulai disalurkan, mencakup program perbaikan tujuh unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), 127 paket sembako dari Baznas Jateng, serta bantuan senilai Rp10.065.500 dari PMI Jateng. Namun, skala kerusakan jauh melampaui bantuan awal ini.Janji Pemerintah dan Realita Lapangan
Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menyatakan, “Sudah kita asesmen. Tinggal kita petakan lagi secara detail, kita hitung kebutuhannya apa saja. Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama-sama antara kabupaten, provinsi, dan juga pemerintah pusat.” Ia menekankan pendekatan kolaboratif menjadi kunci agar persoalan banjir tidak terus berulang. Namun, di lapangan, warga terdampak masih menghadapi kenyataan pahit. Ma’arif (39), salah satu korban, mengakui bantuan mulai terasa, “Alhamdulillah bantuan sudah mulai terasa. Dari nasi bungkus, listrik sudah nyala, air bersih juga ada, sampai pembersihan lumpur.










