Menguak Asal

3 min read
Exploring the Origins

Akumulasi buku Yasin dari acara tahlilan menjadi sorotan. Banyak buku Yasin tidak nyaman dibaca atau hanya berakhir sebagai pajangan. Praktik cetak buku Yasin dinilai membebani dan kurang efisien. Dana lebih baik dialokasikan untuk urusan mendiang seperti utang atau donasi yatim piatu. Kebiasaan ini dianggap tradisi tanpa manfaat optimal bagi almarhum.

Exploring the Origins

Warga dan keluarga duka di berbagai wilayah Indonesia disorot atas kebiasaan menumpuk buku Yasin, alih-alih mengoptimalkan nilai guna atau alokasi dana. Praktik pembagian buku Yasin saat tahlilan, khususnya peringatan 40 atau 100 hari wafatnya seseorang, dikritik tajam karena dinilai membebani keluarga duka yang tidak mampu dan hanya menciptakan timbunan buku tak terpakai di rumah penerima.

Fenomena ini bukan sekadar penumpukan; banyak buku Yasin yang berakhir sebagai pajangan tak tersentuh, bahkan masih terbungkus plastik, di rak-rak rumah warga. Kritikus mendesak penghentian praktik tersebut, mengusulkan dana yang terbuang dialihkan untuk kebutuhan mendiang yang lebih mendesak atau santunan sosial.

Beban Tak Terlihat di Setiap Tahlilan

Penumpukan buku Yasin terjadi secara masif. Seiring bertambahnya usia dan lingkaran pergaulan, jumlah buku Yasin yang diterima seorang individu atau keluarga bertambah eksponensial dari berbagai sumber- mulai tetangga hingga kerabat jauh. Buku-buku ini bervariasi dari desain sederhana hingga mewah ber-hard cover, namun nasibnya sama: berakhir di tumpukan.

Penolakan terhadap pemberian buku Yasin, meski tidak selalu terjadi di setiap tahlilan, sulit dilakukan karena dianggap tidak menghargai. Situasi ini menjepit penerima dalam dilema etika-menerima tapi tidak memakai, atau menolak dan dianggap tidak sopan.

Kenyamanan penggunaan buku-buku ini juga dipertanyakan. Banyak yang dicetak dengan ukuran huruf terlalu kecil, cetakan kabur, atau penulisan huruf hijaiyah yang berbeda, menyulitkan pembaca. Akibatnya, buku-buku tersebut jarang digunakan, bahkan oleh mereka yang rajin mengaji.

“Yang sudah-sudah, cuma jadi pajangan rak buku,” ungkap seorang pengamat, menyoroti realitas buku-buku tersebut. Ia menambahkan, bahkan saat dipakai, seringnya hanya untuk tamu di acara tahlilan itu sendiri, padahal banyak tamu sudah membawa buku Yasin koleksi pribadi.

Nasib serupa menimpa buku Yasin yang disumbangkan ke masjid atau musala. “Cuma memenuhi rak buku. Ujung-ujungnya, usang karena nggak pernah tersentuh. Bukan rusak karena terlalu sering dipakai,” tegasnya.

Dana Terbuang, Keluarga Terbebani

Praktek mencetak buku Yasin ini dianggap sebagai pemborosan dana yang signifikan. Pengamat menyarankan prioritas utama bagi keluarga duka adalah menyelesaikan urusan mendiang, seperti pemakaman, pelunasan utang, atau administrasi terkait wafatnya almarhum. Jika masih ada kelebihan dana, santunan anak yatim dinilai jauh lebih bermanfaat.

“Masya Allah, Yasin-nya bagus’. Kalau cuma sekadar pujian seperti itu tapi nggak dipakai, ya buat apa,” ujarnya, menyentil pujian kosong yang sering menyertai pembagian buku. Ia menekankan, “Buku kan untuk dimanfaatkan isinya, bukan buat koleksi semata. Apalagi, buku doa.”

Kritik pedas juga diarahkan pada aspek tradisi yang membebani. “Nggak semua keluarga yang ditinggalkan mampu untuk cetak buku Yasin,” katanya. “Kok rasanya kalau nggak bagi-bagi Yasin pas tahlilan 40 atau 100 hari, kayak nggak afdal. Padahal, mah biasa aja. Itu semua cuma tradisi. Nggak dijalankan nggak dosa.”

Kebiasaan mencetak buku Yasin, yang niat awalnya mengenang mendiang dan mendorong doa, kini berbalik menjadi beban finansial dan penumpukan barang tak terpakai. Kritik ini menyerukan evaluasi ulang terhadap tradisi yang sudah mengakar, mempertimbangkan manfaat nyata dan beban yang ditimbulkannya.

More like this