Pendidikan Jadi Kunci: Remaja Putri Ini Gebrak Stereotip, Wujudkan Mimpi di Pertambangan
Syifa Syafitri, remaja Boyolali, sempat putus sekolah kelas 8 karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kini, ia melanjutkan pendidikan gratis di SR SMP 78 Sragen. Program Sekolah Rakyat Presiden Prabowo Subianto memfasilitasi Syifa. Fasilitas meliputi makan, asrama, laptop, ponsel, seragam, dan aktivitas ekstrakurikuler. Ini membuka akses pendidikan berkualitas.

Seorang remaja putri asal Boyolali, Syifa Syafitri, kini melanjutkan pendidikan gratis di SR SMP 78 Sragen setelah dua tahun putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Kesempatan ini muncul dari program “Sekolah Rakyat” yang secara eksplisit dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto, sebuah inisiatif yang digadang-gadang menawarkan fasilitas pendidikan luar biasa lengkap.
Namun, narasi di balik kisah Syifa ini datang dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, memunculkan pertanyaan tentang motif di balik publikasi kisah inspiratif yang sangat spesifik dan secara langsung mengaitkan program tersebut dengan nama seorang kepala negara. Data menunjukkan Syifa putus sekolah pada tahun ajaran 2024, namun rilis pers ini muncul pada April 2026, menyisakan jeda yang patut dicermati.
Latar Belakang Putus Sekolah
Syifa Syafitri, dari Desa Kayu Lawang, Kecamatan Taman Sari, Boyolali, terpaksa berhenti di kelas 8 SMP. Ayahnya pemulung, ibunya penjual pakaian bekas; penghasilan mereka tidak cukup membiayai sekolah. Impian Syifa bekerja di sektor pertambangan sempat terkubur dalam-dalam.
Program “Sekolah Rakyat” dan Fasilitas Mewah
Kini, “Sekolah Rakyat” di SR SMP 78 Sragen membuka kembali pintu pendidikan baginya. Program ini menjanjikan pendidikan kelas 8 secara cuma-cuma, lengkap dengan fasilitas yang jauh melampaui standar sekolah umum.
Siswa di sana menerima makan gratis tiga kali sehari, kudapan dua kali sehari, asrama gratis, serta satu unit laptop dan ponsel pintar. Seragam, baju tidur, dan baju asrama juga diberikan tanpa biaya sepeser pun.
Fasilitas berlimpah ini, yang mencakup ekstrakurikuler olahraga, kesenian, dan bahasa, serta pelatihan kemandirian, menimbulkan pertanyaan mendesak: apakah program “Sekolah Rakyat” ini merupakan bagian dari kebijakan pendidikan nasional yang terstruktur, atau sebuah proyek percontohan yang terbatas, dibiayai oleh sumber dana yang tidak dijelaskan secara transparan?
Pemberitaan yang bersumber tunggal dari Bakom RI ini seolah mengukuhkan citra program sebagai inisiatif personal seorang pemimpin negara, bukan sebuah sistem pendidikan yang dapat direplikasi secara luas untuk mengatasi jutaan kasus putus sekolah lain di Indonesia.
Pengakuan Syifa
Syifa membenarkan, “Saya putus sekolah di tahun ajaran 2024, di kelas 8 menuju semester dua akhir karena ekonomi keluarga saya.” Ia kini mengungkapkan kebahagiaan atas kesempatan kedua ini.
“Seragam dan baju tidur serta baju untuk di asrama juga dikasih dari Sekolah Rakyat tanpa dipungut sepeser biaya apapun,” jelasnya, menyoroti kelengkapan fasilitas yang diterima.
Sebagai bentuk apresiasi, Syifa secara khusus menyampaikan terima kasih dan doa tulus kepada “Bapak Prabowo, Bapak Gibran, dan Bapak-Ibu yang ada di belakang Sekolah Rakyat,” sebuah ungkapan yang secara politis sangat kuat dalam konteks narasi pemerintah.
Solusi Parsial
Kisah Syifa mencerminkan realitas pahit ribuan anak Indonesia yang terpaksa mengubur impian karena ketiadaan biaya pendidikan. Ironisnya, solusi yang ditawarkan dalam narasi ini, meskipun personal dan heroik, belum menjawab kebutuhan sistemik akan program pendidikan yang inklusif, berkelanjutan, dan transparan bagi seluruh rakyat.