Potensi Investasi RI Tembus Rp 498,8 T di Q1 2026, Pemicu 706 Ribu Lapangan Kerja Baru
Kementerian Investasi/BKPM mencatat realisasi investasi Triwulan I 2026 sebesar Rp 498,8 triliun, naik 7,2% yoy. Investasi ini menyerap 706.569 tenaga kerja. Realisasi PMA dan PMDN nyaris berimbang, masing-masing tumbuh 8,5% dan 6,0%. Industri logam dasar menjadi penyumbang terbesar investasi.

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengklaim realisasi investasi Triwulan I 2026 mencapai Rp 498,8 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan. Namun, capaian ini melambat drastis hanya 0,4% dibanding kuartal sebelumnya, memunculkan pertanyaan besar atas momentum pertumbuhan investasi di tengah target ambisius pemerintah.
Angka stagnan ini mengancam target pemerintah sebesar Rp 2.041,3 triliun untuk 2026. Dengan hanya 24,4% target tercapai di kuartal pertama, Kementerian Investasi di bawah Rosal Perkasa Roeslani menghadapi tantangan berat untuk mengakselerasi penanaman modal di sisa tahun.
Pertumbuhan Lesu dan Target Berat
Realisasi investasi Rp 498,8 triliun pada Januari-Maret 2026 menyerap 706.569 tenaga kerja, naik 18,9% dari periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi satu-satunya sorotan positif di tengah perlambatan investasi kuartalan yang mengkhawatirkan. Laju pertumbuhan hanya 0,4% secara kuartalan menunjukkan investasi bergerak di tempat, jauh dari akselerasi yang dibutuhkan.
Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp 250,0 triliun (50,1%), tumbuh 8,5% secara tahunan. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi Rp 248,8 triliun (49,9%), naik 6,0% secara tahunan. Distribusi yang “nyaris berimbang” ini tidak serta merta mencerminkan pertumbuhan sehat, melainkan bisa jadi indikasi stagnasi di beberapa sektor kunci.
Investasi di Jawa mencatat Rp 247,5 triliun (49,6%) dan di Luar Jawa Rp 251,3 triliun (50,4%). Meskipun Luar Jawa sedikit mendominasi, pertumbuhan 6,5% di Luar Jawa dan 7,9% di Jawa secara tahunan menunjukkan disparitas, di mana Jawa justru tumbuh lebih cepat. Ini kontradiktif dengan narasi pemerataan pembangunan.
Sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar dengan Rp 69,4 triliun. Diikuti jasa lainnya Rp 64,2 triliun, pertambangan Rp 51,9 triliun, perumahan/kawasan industri/perkantoran Rp 48,0 triliun, serta transportasi/gudang/telekomunikasi Rp 45,4 triliun. Ketergantungan pada sektor ekstraktif dan properti tetap tinggi.
Hilirisasi Tertinggal
Investasi di bidang hilirisasi hanya Rp 147,5 triliun, atau 29,6% dari total realisasi Triwulan I 2026. Angka ini, meski diklaim meningkat 8,2% secara tahunan, masih jauh dari ambisi pemerintah untuk menjadikan hilirisasi tulang punggung ekonomi. Proporsi yang kurang dari sepertiga total investasi menunjukkan upaya hilirisasi belum maksimal.
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosal Perkasa Roeslani, mengakui tantangan target. “Target investasi pada 2026 adalah Rp 2.041,3 triliun. Realisasi investasi pada Triwulan I 2026 kurang lebih 24,4% dari total target investasi pada tahun 2026,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4). Angka 24,4% ini berarti Kementerian Investasi harus mengejar lebih dari 75% target di sisa tiga kuartal, sebuah tugas monumental mengingat perlambatan kuartalan yang terjadi.
Rosal juga menyoroti hilirisasi. “Capaian investasi yang berhubungan dengan hilirisasi cukup signifikan, meningkat 8,2% dibanding periode yang sama tahun lalu,” tutup Rosan. Namun, “cukup signifikan” ini kontras dengan fakta bahwa hilirisasi masih di bawah sepertiga total investasi, menunjukkan pemerintah masih perlu bekerja keras untuk menggeser fokus investor.
Data ini menggarisbawahi tekanan besar terhadap Kementerian Investasi untuk tidak hanya meningkatkan jumlah, tetapi juga kualitas dan distribusi investasi. Perlambatan kuartalan menjadi sinyal peringatan serius yang tidak bisa diabaikan.