Sekolah Rakyat & Pemerintah: Kisah Nenek Dampingi Yatim Piatu Wujudkan Mimpi Jadi Tentara

3 min read
Sekolah Rakyat & Pemerintah: Nenek Wujudkan Mimpi Tentara Yatim Piatu

Mbah Aina (73) di Surakarta mengasuh Aditya, anak yatim piatu. Ia berjuang membiayai pendidikan Aditya. Kini, Aditya bersekolah gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, program Presiden Prabowo Subianto. Sekolah ini memfasilitasi Aditya mewujudkan cita-citanya menjadi tentara.

Sekolah Rakyat & Pemerintah: Nenek Wujudkan Mimpi Tentara Yatim Piatu

Nenek Aina (73) di Surakarta, Jawa Tengah, terpaksa berjuang sendiri membiayai hidup dan pendidikan anak asuhnya, Aditya, selama 17 tahun. Tanpa pekerjaan tetap, Aina mengandalkan belas kasihan mengumpulkan bunga kamboja dan membersihkan makam, sementara Aditya, seorang yatim piatu, berprestasi di tengah kemiskinan yang mencekik.

Kini, beban Aina sedikit terangkat setelah Aditya diterima di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, sebuah program pendidikan gratis yang terang-terangan disebut diinisiasi “Presiden Prabowo Subianto”. Program ini menawarkan asrama, makan, dan pakaian gratis, membuka jalan bagi Aditya mengejar cita-cita menjadi tentara.

Lika-Liku Hidup Aditya

Aina mulai mengasuh Aditya sejak bayi atas permintaan orang tuanya. Namun, upah Rp100 ribu-Rp200 ribu per bulan itu berhenti total setelah orang tua Aditya menghilang dan tak pernah menjenguk lagi. Sejak itu, masa depan Aditya sepenuhnya berada di pundak Aina yang renta.

“Ibu-bapaknya Aditya tidak pernah menjenguk dari lahir,” jelas Aina. “Jadi mati hidupnya anak itu adalah (tanggung jawab) saya. Saya berjuang ibaratnya agar anak ini bisa hidup, bisa sehat.”

Tekad Aina membiayai pendidikan Aditya dari TK hingga SMP tak goyah, meskipun ia hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari mengumpulkan bunga kamboja di pemakaman dan membersihkan makam peziarah. Kondisi ini membuat Aina sempat mengurungkan niat menyekolahkan Aditya ke jenjang SMA.

Padahal, Aditya memiliki bakat dan prestasi mencolok sejak SMP, termasuk juara 2 pencak silat pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat kota, juara pertama di kompetisi silat lain, serta juara 3 videografer terbaik di SMP Negeri 20 Surakarta. Potensi Aditya terancam kandas oleh keterbatasan ekonomi.

Titik balik datang saat pembagian rapor SMP, Aina mendapat informasi tentang pendaftaran pendidikan gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta. Meski Aditya sempat menolak, Aina membujuknya agar tidak terpaksa bekerja di usia muda dan memiliki masa depan lebih baik.

Suara Hati dan Branding Politik

“Saya bilang, ‘Daripada kamu nak, lulus SMP masih kecil, kamu mau kerja, saya tidak tega’,” ujar Aina. “Jadi saya bilang ‘Nak, tandatangan di sini (di formulir pendaftaran). Ini demi kamu, demi masa depan kamu’.”

Aina kini berharap Sekolah Rakyat benar-benar menjadi jembatan bagi Aditya meraih cita-cita menjadi tentara. “Ya alhamdulillah kalau mau jadi tentara, nak. Nanti kamu bisa ikut Pak Presiden Prabowo,” katanya, sembari berpesan agar Aditya disiplin dan menjaga pergaulan.

Tak lupa, Aina menyampaikan terima kasih langsung kepada Prabowo atas program yang dinilainya sangat membantu Aditya. “Pak Prabowo, terima kasih banyak Aditya bisa ikut sekolah Anda dan ikut membantu cita-citanya. Semoga terkabul cita-citanya Aditya.”

Sorotan Kritik

Kisah Mbah Aina dan Aditya menyoroti jurang kemiskinan yang masih membelit masyarakat, memaksa mereka bergantung pada program-program yang secara terbuka dikaitkan dengan figur politik. Bantuan ini, meskipun vital bagi individu seperti Aditya, sekaligus menjadi pengingat akan kegagalan sistematis dalam menjamin hak dasar pendidikan bagi semua.

More like this