Solusi Prabowo: Sekolah Rakyat, Penyelamat Anak Yatim dari Jurang Putus Sekolah dan Tawuran

3 min read
Solusi Prabowo: Sekolah Rakyat Penyelamat Anak Yatim dari Putus Sekolah & Tawuran

Sekolah Rakyat, inisiasi Presiden RI Prabowo Subianto, menyelamatkan Julio, anak yatim dari Surakarta. Julio, sebelumnya putus sekolah dan terlibat tawuran, kini kembali belajar. Sekolah berasrama gratis untuk anak miskin ekstrem ini menyediakan pendidikan. Ibu Welas (74 tahun) menyaksikan perubahan positif cucunya, Julio, yang kini lebih tenang.

Solusi Prabowo: Sekolah Rakyat Penyelamat Anak Yatim dari Putus Sekolah & Tawuran

Seorang anak yatim piatu di Surakarta, Julio, yang sempat putus sekolah dan terlibat tawuran dengan senjata tajam, kini diselamatkan oleh program Sekolah Rakyat. Sekolah berasrama gratis yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto ini menjadi jawaban atas kemiskinan ekstrem dan kenakalan jalanan yang menjerat Julio, membuka kembali harapan bagi masa depannya.

Program ini secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, menawarkan pendidikan dan tempat tinggal tanpa biaya. Kasus Julio, yang diasuh neneknya di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta, menyorot kegagalan sistem dalam menjangkau anak-anak paling rentan.

Jejak Kenakalan dan Kemiskinan Ekstrem

Julio kehilangan ayahnya sejak usia satu tahun, tumbuh dalam asuhan neneknya, Ibu Welas (74 tahun), di tengah keterbatasan ekonomi akut. Setelah hanya menuntaskan pendidikan hingga kelas 3 SD, Julio berhenti sekolah. Hari-harinya dihabiskan di luar rumah, bergaul bebas, bahkan terlibat dalam kenakalan serius seperti lempar-lemparan batu hingga membawa senjata tajam bersama teman-temannya.

Kondisi ini bukan tanpa sebab. Ibu Welas, yang di usia senjanya tidak lagi mampu berjualan sayur keliling, menghadapi beban berat. Keluarga ini terperangkap dalam kemiskinan ekstrem, sehingga kebutuhan dasar, apalagi pendidikan, menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Beban finansial semakin menekan ketika Julio kerap meminta uang Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap hari, yang menjadi pengeluaran tak tertanggulangi bagi sang nenek.

Kini, perubahan drastis terlihat. Julio yang dulu dikenal sulit diatur, menunjukkan sikap lebih tenang. Ia kembali menikmati proses belajar dan memperlihatkan kedekatan emosional yang lebih hangat dengan neneknya, indikator nyata dampak positif dari lingkungan yang aman dan terstruktur.

Pengakuan Keluarga dan Harapan Baru

Ibu Welas tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya tentang masa lalu cucunya. “Dulu Julio nakal. Sama temen-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran),” ungkap Ibu Welas saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/4).

Ia juga menyampaikan perubahan sikap Julio yang signifikan. “Senang (Julio di Sekolah Rakyat) di bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Katanya, Mak aku seneng, di sini (rumah) sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi,” tiru Welas, menyoroti lingkungan positif yang tidak ia dapatkan di rumah.

Harapan Ibu Welas sederhana namun mendalam: “Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak terlantar. Saya sudah tua. Nani sewaktu-waktu dipanggil yang maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik.” Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya, “Matur nuwun Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuhun. Kadose pinter, dados tiang sing genah. (Terima kasih Pak Prabowo, cucu saya bisa sekolah di Sekolah Rakyat. Semoga cucu saya jadi orang yang hidupnya baik).”

Solusi atas Kegagalan Sistem

Kasus Julio menelanjangi jurang lebar dalam akses pendidikan dan perlindungan sosial bagi anak-anak dari keluarga termiskin. Sekolah Rakyat hadir sebagai intervensi kritis, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh sistem yang gagal menjangkau mereka yang paling rentan. Ini bukan sekadar program pendidikan, melainkan titik balik fundamental yang menyelamatkan arah hidup seorang anak dari lingkaran kemiskinan dan kenakalan.

More like this